Kompas.com - 30/08/2013, 17:06 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Ngarai raksasa ditemukan di bawah lapisan es yang menyelimuti wilayah Greenland.

Ngarai raksasa itu ditemukan secara tak sengaja kala ilmuwan melakukan survei untuk memetakan dasar Greenland menggunakan radar.

Anggota tim British Antartic Survey, misi yang menemukan fitur geografis ini, mengungkapkan bahwa sangat mengagumkan bisa menemukan struktur yang semula tak pernah dilihat.

Ngarai itu panjang, mengular dari wilayah tengah Greenland ke pantai di utara wilayah tersebut. Sebelum es ada di wilayah itu, ngarai ini merupakan bagian dari sungai besar yang mengalir ke Laut Arktik.

Kini, wilayah ngarai itu ditutupi es. Es yang menutupinya begitu tebal, mencapai 3 kilometer. Dengan ketebalan lapisan es tersebut, diketahui bahwa wilayah tengah Greenland sebenarnya jeblok hingga 200 meter di bawah permukaan laut.

Para pakar mengungkapkan, ngarai berperan mengalirkan air yang meleleh ke laut di bagian utara Greenland.

Ngarai ini ditemukan saat para ilmuwan tengah melakukan penyelidikan guna menjawab pertanyaan penting: berapa banyak kontribusi es di Greenland pada kenaikan permukaan air laut bila meleleh?

Para peneliti menggunakan radar yang memancarkan gelombang radio untuk menemukan ngarai tersebut. Ketika menemukan, peneliti sangat terkejut.

"Dengan citra satelit yang sudah ada di smartphone, kita mengasumsikan bahwa seluruh bagian Bumi telah terpetakan, tapi ternyata ada banyak yang belum ditemukan. Kami terkesan dengan penemuan ini. Sungguh, penemuan dengan skala ini adalah sekali seumur hidup," kata David Vaughan dari British Antarctic Survey, seperti dikutip BBC, Kamis (29/8/2013).

"lapisan es Greenland dan Antartika menyembunyikan banyak hal. Sangat mengejutkan menemukan ngarai ini. Greenland bukan tempat yang sangat besar untuk ngarai macam ini. Ngarai yang bertahan dari masa grasial juga merupakan sesuatu yang berarti," tambah Vaughan.

Sebagian ngarai ini mungkin pernah tak tertutup es selama 10.000 tahun. Mungkin ada bakteri di ngarai itu. Belum pernah ada manusia yang melihat ngarai ini. Sementara itu, bila es di ngarai meleleh, konsekuensinya adalah kenaikan permukaan laut hingga 7 meter.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menkes Budi Beberkan Upaya Tangani Stunting di Indonesia, Apa Saja?

Menkes Budi Beberkan Upaya Tangani Stunting di Indonesia, Apa Saja?

Oh Begitu
Apakah Buaya Termasuk Dinosaurus?

Apakah Buaya Termasuk Dinosaurus?

Oh Begitu
Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Oh Begitu
Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.