Kompas.com - 05/08/2013, 20:42 WIB
Waspadai kadar garam dalam makanan cepat saji. shutterstockWaspadai kadar garam dalam makanan cepat saji.
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Ilmuwan dari Belanda menciptakan daging buatan di laboratorium yang bisa diolah menjadi bahan baku burger. Daging buatan ini diharapkan mampu mencukupi kebutuhan pangan dan menjawab masalah lingkungan dan etik hewan yang muncul dalam peternakan.

Diberitakan BBC News, Senin (5/8/2013), burger daging buatan yang pengembangannya menelan dana hingga 215.000 poundsterling ini akan dipamerkan, dimasak, dan dimakan pertama kali pada konferensi di London hari ini.

Mark Post dari Maastricht University, peneliti di balik proyek ini, menjelaskan, daging buatan ini dikembangkan dari sel punca. Awalnya, Post mengambil sel punca dari otot sapi. Dengan penambahan bahan pemicu pertumbuhan dan nutrisi, ilmuwan membiarkan sel punca itu membelah dan berkembang.

Setelah tiga minggu, Post memanen sel punca yang jumlahnya mencapai ribuan. Sel punca kemudian diletakkan di sebuah cawan serta bersatu dengan potongan otot sepanjang beberapa sentimeter dan tebal beberapa milimeter.

Selanjutnya, sel punca dibiarkan membelah dan mengalami diferensiasi menjadi jaringan otot. Setelah itu, jaringan otot yang terbentuk, atau disebut daging, dibekukan. Manakala diperlukan, daging itu bisa diambil dan dibentuk menjadi adonan semacam pastel sebelum dimasak.

Daging yang dihasilkan dari proses ini sebenarnya berwarna putih. Namun, Post dan rekannya, Helen Breewood, menambahkan bahan myoglobin agar daging berwarna merah seperti daging sapi hasil ternak biasanya.

Pengembangan terus dilakukan. Burger yang dimasak hari ini menggunakan daging buatan berwarna merah yang diperoleh dengan menambahkan ubi bit. Sementara untuk menambah rasa, digunakan remah roti, karamel, dan saffron.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat ini, peneliti baru bisa menghasilkan daging berukuran kecil. Daging besar membutuhkan sistem peredaran darah buatan untuk mengalirkan nutrisi dan oksigen. Post menyatakan, daging ini mungkin tidak akan memiliki rasa yang "luar biasa", tetapi setidaknya memiliki rasa yang "cukup baik".

Etik hewan dan emisi gas rumah kaca

Pengembangan daging buatan ini diharapkan mampu menjawab masalah etik hewan, seperti jumlah hewan yang terlalu banyak di peternakan dan pengangkutan yang menyengsarakan serta masalah emisi karbon dari peternakan dan energi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER SAINS] Kata Epidemiolog Soal Tempat Wisata Ramai | Asteroid 2021 PH27 Punya Periode Orbit Tercepat di Tata Surya

[POPULER SAINS] Kata Epidemiolog Soal Tempat Wisata Ramai | Asteroid 2021 PH27 Punya Periode Orbit Tercepat di Tata Surya

Oh Begitu
Menkes Budi Gunadi Sebut WhatsApp Mudahkan Komunikasi Selama Pandemi, Termasuk Telemedicine

Menkes Budi Gunadi Sebut WhatsApp Mudahkan Komunikasi Selama Pandemi, Termasuk Telemedicine

Oh Begitu
Mengapa Asteroid 2021 PH27 Memiliki Periode Orbit Tercepat di Tata Surya? Ini Penjelasan Ahli

Mengapa Asteroid 2021 PH27 Memiliki Periode Orbit Tercepat di Tata Surya? Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Peristiwa Likuifaksi dan Karakteristik Tanah yang Terkena

Peristiwa Likuifaksi dan Karakteristik Tanah yang Terkena

Fenomena
Ilmu Gerontologi, Definisi, Tujuan, dan Perbedaannya dengan Geriatri

Ilmu Gerontologi, Definisi, Tujuan, dan Perbedaannya dengan Geriatri

Oh Begitu
Mengenal Asteroid 2021 PH27, Asteroid yang Baru Ditemukan Agustus Lalu

Mengenal Asteroid 2021 PH27, Asteroid yang Baru Ditemukan Agustus Lalu

Fenomena
Spesies Baru Cecak Jarilengkung Hamidyi Ditemukan di Pulau Kalimantan

Spesies Baru Cecak Jarilengkung Hamidyi Ditemukan di Pulau Kalimantan

Fenomena
Orang Kidal Lebih Pintar, Benarkah?

Orang Kidal Lebih Pintar, Benarkah?

Oh Begitu
5 Penyakit yang Mengganggu Sistem Pencernaan

5 Penyakit yang Mengganggu Sistem Pencernaan

Kita
Sekolah Tatap Muka di Indonesia Didesak Segera Dibuka, Ini Saran Pakar Epidemiologi

Sekolah Tatap Muka di Indonesia Didesak Segera Dibuka, Ini Saran Pakar Epidemiologi

Oh Begitu
7 Obat Herbal Amandel, Salah Satunya Bawang Putih

7 Obat Herbal Amandel, Salah Satunya Bawang Putih

Oh Begitu
Penyakit yang Sering Terjadi pada Rangka Tubuh Manusia

Penyakit yang Sering Terjadi pada Rangka Tubuh Manusia

Kita
Reboisasi Pesisir, Selamatkan Terumbu Karang dari Kerusakan

Reboisasi Pesisir, Selamatkan Terumbu Karang dari Kerusakan

Oh Begitu
WHO dan UNICEF Desak Indonesia Membuka Sekolah Tatap Muka, Ini Kata Pakar Epidemiologi

WHO dan UNICEF Desak Indonesia Membuka Sekolah Tatap Muka, Ini Kata Pakar Epidemiologi

Oh Begitu
Jangan Lewatkan Full Harvest Moon di Langit Indonesia Malam Ini

Jangan Lewatkan Full Harvest Moon di Langit Indonesia Malam Ini

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.