Kompas.com - 16/07/2013, 18:35 WIB
Badai Sandy NASABadai Sandy
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Selama ini, global position system (GPS) hanya digunakan untuk mengetahui lokasi. Kini, para ilmuwan tengah berupaya memanfaatkan GPS mengukur kecepatan angin dalam badai sehingga keganasan badai bisa diperkirakan.

GPS bisa dimanfaatkan untuk pengukuran badai karena sifatnya yang mampu dipantulkan ketika menumbuk permukaan air. Karena badai sebenarnya tersusun atas uap air, sinyal GPS juga bisa mengalami pemantulan saat menumbuk badai.

Stephen Katzberg bekerja sama dengan Langley Research Center, Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), adalah ilmuwan yang berupaya mengembangkan GPS untuk mengukur kecepatan angin dalam badai ini.

Ia telah melakukan percobaan pengukuran kecepatan badai dengan GPS menggunakan pesawat milik Badan Atmosfer dan Kelautan AS (NOAA), yang disebut Hurricane Hunter.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa GPS mampu memberikan informasi berharga terkait badai yang dibutuhkan dengan dana yang lebih murah.

Katzberg mengatakan, sejumlah 60 persen sinyal GPS dipantulkan ke udara saat menumbuk permukaan air. Seperti permukaan air yang bergelombang, sinyal GPS yang dipantulkan juga punya karakteristik sama.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Gelombang radio memantul dari permukaan yang bergelombang. Semakin kacau permukaan, pantulan juga makin kacau dan itulah yang kita ukur," kata Katzberg menguraikan prinsip pengukuran kecepatan badai.

Untuk mengukur kecepatan badai, Katzberg menggunakan kepingan penerima yang terdapat pada pesawat Hurricane Hunter. Kepingan penerima ini mirip seperti yang ditemukan pada smartphone.

Selanjutnya, komputer akan memproses data sinyal pantul yang diterima, membandingkan antara sinyal yang dipancarkan dengan sinyal pantul yang diterima sehingga kecepatan angin dalam badai bisa diketahui.

Penggunaan satelit GPS untuk mengukur dan memetakan badai bermula dari keinginan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin informasi tentang badai tanpa perlu mengeluarkan banyak dana.

Saat ini, untuk mengukur kecepatan angin dalam badai, peneliti menggunakan alat bernama dropsonde. Alat ini dipakai dengan "dijatuhkan" di tengah badai.

Akurasi dropsonde memang sangat tinggi. Namun, harga dropsonde sangat mahal, mencapai 750 dollar AS, dan hanya bisa sekali pakai.

Pemakaian GPS menjanjikan karena walaupun akurasinya sedikit rendah, harganya murah. Kartzberg berharap suatu hari GPS dapat dimanfaatkan dalam bidang meteorologi untuk mengukur kecepatan badai.

Kecepatan badai sendiri penting diukur untuk bisa memperkirakan dampak badai dan kapan badai akan mencapai wilayah tertentu. (Dyah Arum Narwastu)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Varian Beta dan Omicron dari Satu Negara, Mengapa Afrika Rawan Munculnya Varian Baru Covid-19?

Varian Beta dan Omicron dari Satu Negara, Mengapa Afrika Rawan Munculnya Varian Baru Covid-19?

Oh Begitu
Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Oh Begitu
BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

Fenomena
Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Oh Begitu
Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.