Kompas.com - 04/07/2013, 13:55 WIB
Ilustrasi: Peneropongan hilal di Bosscha. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHOIlustrasi: Peneropongan hilal di Bosscha.
EditorYunanto Wiji Utomo

Oleh M Zaid Wahyudi

JAKARTA, KOMPAS.com
- Pekan depan, Ramadhan 1434 Hijriah tiba. Umat Islam Indonesia diperkirakan akan mengawali Ramadhan pada hari yang berbeda, yaitu Selasa (9/7/2013) dan Rabu (10/7/2013). Namun, kemungkinan besar mereka akan mengakhiri puasa dan merayakan Idul Fitri secara bersama-sama pada Kamis, 8 Agustus.

Kondisi itu sama seperti Ramadhan tahun lalu. Perbedaan muncul sebagai akibat penggunaan kriteria awal bulan dalam kalender Hijriah yang berbeda, yaitu terbentuknya hilal (wujudul hilal) dan terlihatnya hilal (rukyatul hilal). Perbedaan bukan sekadar akibat penggunaan metode perhitungan (hisab) atau melihat (rukyat) hilal semata.

”Beda kriteria ini bersumber dari perbedaan tafsir atas dalil agama yang digunakan,” kata dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung yang juga anggota Badan Hisab Rukyat Pusat, Moedji Raharto, Rabu (3/7/2013).

Kelompok yang mengawali Ramadhan pada Selasa menggunakan kriteria terbentuknya hilal atau bulan sabit tipis pertama. Kriteria ini digunakan berdasar perhitungan, tanpa mensyaratkan hilal tersebut bisa dilihat atau dibuktikan keberadaannya.

Adapun kelompok yang memulai Ramadhan pada Rabu, memakai kriteria terlihatnya hilal, tidak cukup asal terbentuknya hilal. Pengamatan hilal dengan mata atau teleskop dilakukan untuk membuktikan keberadaan hilal berdasar perhitungan yang dilakukan sebelumnya.

Perbedaan kriteria itu, kata Moedji, membuat sama atau berbedanya awal bulan Hijriah sangat bergantung pada posisi Bulan. Posisi Bulan setiap menjelang awal bulan Hijriah bersifat dinamis, tidak selalu sama.

Jika kesegarisan Matahari-Bulan-Bumi yang juga disebut konjungsi (ijtimak) terjadi menjelang terbenamnya Matahari, biasanya kedua kelompok pengguna kriteria awal bulan yang berbeda itu akan mengawali awal bulan Hijriah dengan berbeda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kondisi itulah yang terjadi pada Ramadhan kali ini. Konjungsi yang menandai siklus bulan baru terjadi pada Senin (8/7/2013), sekitar 3 jam sebelum Matahari terbenam untuk wilayah barat daya Indonesia. Artinya, saat Matahari terbenam, hilal sudah terbentuk tetapi akan sulit diamati karena dianggap Bulan ”belum cukup umur”.

Berdasar pengalaman observasi hilal selama ini, belum cukupnya umur Bulan membuat posisi hilal terlalu dekat Matahari. Ketinggiannya dari horizon juga terlalu rendah dan ketebalan hilal sangat tipis. Semua kondisi itu membuat hilal sulit diamati.

Dosen Pendidikan Fisika Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang juga anggota Tim Pengamat Hilal UPI, Judhistira Aria Utama, mengatakan, selama kondisi atmosfer bersih, cuaca mendukung dan menggunakan teleskop dengan perbesaran tertentu, tetap ada peluang hilal teramati.

Halaman:
Baca tentang


    Rekomendasi untuk anda
    26th

    Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

    Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke dalam Tubuh Sampai Merusak Organ

    Oh Begitu
    Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

    Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

    Oh Begitu
    Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

    Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

    Oh Begitu
    4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

    4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

    Oh Begitu
    [POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

    [POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

    Oh Begitu
    Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

    Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

    Oh Begitu
    Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

    Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

    Oh Begitu
    Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

    Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

    Oh Begitu
    Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

    Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

    Fenomena
    Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

    Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

    Oh Begitu
    70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

    70 Persen Penyintas Covid-19 Alami Gejala Long Covid

    Oh Begitu
    Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

    Sisa Fosil Triceratops Terbesar Si Big John Dibeli Kolektor

    Fenomena
    Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

    Epidemiolog: Delta Plus di Inggris Bisa Gantikan Dominasi Varian Delta

    Oh Begitu
    Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

    Ahli Sebut Terobosan Baru Akan Membantu Kita Hidup Berdampingan dengan Covid-19

    Oh Begitu
    Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

    Zat Berbahaya di Dalam Rokok Penyebab Kanker Paru-Paru

    Oh Begitu
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X
    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.