Ancaman Utama Aceh Bukan Tsunami, melainkan Gempa Daratan

Kompas.com - 04/07/2013, 13:37 WIB
Lokasi gempa Aceh, Selasa (2/7/2013) USGSLokasi gempa Aceh, Selasa (2/7/2013)
|
EditorYunanto Wiji Utomo

JAKARTA, KOMPAS.com — Pascagempa besar yang memicu tsunami pada tahun 2004, ancaman utama Aceh bukan lagi gempa besar dan tsunami, melainkan justru gempa yang berpusat di daratan.

"Gempa di laut dengan kekuatan sebesar tahun 2004 kemungkinannya kecil," kata pakar gempa Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Meilano, lewat percakapan dengan Kompas.com, Kamis (4/7/2013).

Berdasarkan studi, Irwan mengungkapkan bahwa pascagempa 2004, frekuensi gempa daratan yang bersumber dari segmen Aceh meningkat tajam.

Sebelumnya, dari tahun 1980 hingga 2004, hanya ada 12 gempa bermagnitudo di atas 5. Setelah tahun 2004, sudah tercatat ada 33 gempa bermagnitudo di atas 5. Bila sebelumnya hanya ada 1 gempa dalam 2 tahun, kini ada 3 gempa yang merusak dalam setahun.

Irwan menjelaskan, gempa tahun 2004 melepaskan energi dalam jumlah besar sehingga memicu aktivitas tektonik di wilayah sekitarnya.

"Ketika gempa 2004 terjadi, energi yang sangat besar terlepas. Energi ini meningkatkan regangan di wilayah sekitarnya. Di daratan, stress (energi) ini akan mempercepat siklus gempa," kata Irwan.

Gempa dengan magnitudo 6,2 yang terjadi pada Selasa (2/7/2013) adalah salah satu gempa yang dipicu energi yang lepas tahun 2004.

Pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman Natawidjaja, mengatakan bahwa gempa laut memang berbahaya karena bisa menimbulkan tsunami, tetapi gempa darat juga bisa sangat merusak dan menimbulkan longsor.

Contoh nyata gempa daratan yang mematikan adalah gempa di Tahiti tahun 2010 yang menewaskan 200.000 jiwa dan gempa di Yogyakarta tahun 2006 yang menewaskan lebih dari 5.000 orang.

Menurut Danny, kerusakan pada ribuan bangunan di Aceh akibat gempa 2 hari lalu mengindikasikan bahwa masih banyak bangunan di atas sesar aktif serta masih banyaknya bangunan yang tak tahan gempa.

Sebagai evaluasi, Danny mengatakan pentingnya perencanaan tata ruang yang memperhatikan risiko kegempaan.

"Bagaimana perencanaan tata ruang didasarkan pada hasil studi itu. Jangan sampai ada rumah apalagi fasilitas publik yang persis ada di atas sesar. Untuk penduduk yang rumahnya telanjur ada di sekitar sesar aktif, perlu edukasi sehingga mereka siap," kata Danny.

Sementara Irwan mengungkapkan bahwa ada empat pelajaran penting yang bisa dipetik dari gempa Aceh pada Selasa lalu.

"Pelajaran yang bisa diambil dari gempa Aceh kemarin adalah perlunya informasi detail terkait sumber gempa, pembuatan peta kajian risiko, perlunya aturan yang tegas berdasarkan kajian ilmiah itu, dan penyebarluasan informasi dan edukasi pada masyarakat," katanya.

Baca tentang


    25th

    Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads X