Kompas.com - 02/07/2013, 18:51 WIB
Gunung Api Rokatenda, di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (2/4/2013) diamati dari Pos Pengamatan di Ropa, Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Pulau Flores terlihat masih mengeluarkan asap setinggi sekitar 50 meter. Pulau gunung api setinggi 875 meter di atas permukaan laut atau 3000 meter di atas dasar laut itu mengalami peningkatan aktivitas sejak Oktober 2012, dan sampai Selasa kemarin masih dalam status siaga. Dari Oktober 2012 hingga awal April ini sedikitnya telah terjadi lima kali letusan. 

KOMPAS/SAMUEL OKTORAGunung Api Rokatenda, di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (2/4/2013) diamati dari Pos Pengamatan di Ropa, Desa Keliwumbu, Kecamatan Maurole, Kabupaten Ende, Pulau Flores terlihat masih mengeluarkan asap setinggi sekitar 50 meter. Pulau gunung api setinggi 875 meter di atas permukaan laut atau 3000 meter di atas dasar laut itu mengalami peningkatan aktivitas sejak Oktober 2012, dan sampai Selasa kemarin masih dalam status siaga. Dari Oktober 2012 hingga awal April ini sedikitnya telah terjadi lima kali letusan.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

KOMPAS.com — Gempa besar dapat menyebabkan gunung api tenggelam atau turun. Ini terungkap dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Geoscience baru-baru ini.

Penelitian mengungkap, gempa bermagnitud 9 yang terjadi di Jepang tahun 2011 menyebabkan penurunan hingga 15 cm pada gunung-gunung api di Pulau Honshu hingga sejauh 200 km dari pusat gempa.

Sementara itu, gempa bermagnitud 8,8 di Maule, Cile, tahun 2010, menyebabkan penurunan yang hampir sama pada lima gunung api yang berjarak hingga 220 km dari pusat gempa.

Baik gempa Jepang maupun Cile merupakan gempa subduksi, disebabkan oleh salah satu lempeng yang menghunjam lempeng lainnya. Jika gerakan tak halus, maka dapat tercipta tegangan selama beberapa dekade hingga akhirnya ketika mencapai puncak tegangan dilepaskan, kadang lewat peristiwa bencana besar yang mematikan.

Baik dalam kasus di Jepang maupun Cile, penurunan terjadi pada gunung api yang secara horizontal masuk di wilayah sekitar pusat gempa.

Youichiro Takada dari Disaster Prevention Research Institute di Kyoto University mengatakan, gempa Jepang tahun 2011 menciptakan tegangan barat-timur di wilayah timur Jepang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Batuan yang panas dan lunak di bawah, dengan magma di pusatnya, secara horizontal meregang dan secara vertikal mendatar. Deformasi ini menyebabkan gunung api turun," kata Takada seperti dikutip AFP, Minggu (30/6/2013).

Seperti di Jepang, deformasi di Cile terjadi di wilayah berbentuk elips hingga seluas 15 x 30 km, meskipun sebabnya bisa berbeda.

Dua gempa di Cile pada tahun 1906 dan 1960 diikuti dengan erupsi gunung berapi di zona vulkanis selatan Andean setahun setelah gempa.

Meski demikian, kaitan antara gempa besar dan erupsi vulkanis belum jelas.

Tidak ada erupsi besar yang bisa dikaitkan dengan gempa tahun 2010 di Cile. Sementara itu, dampak gempa besar di Jepang pada tahun 2011 tidak jelas.

"Pada tahap ini, kami belum mengetahui hubungan antara gempa besar, erupsi, dan penurunan yang kita temukan. Pemahaman lebih lanjut tentang gerakan magma penting," kata Takada.

Penurunan di Jepang dijumpai di Gunung Akitakoma yang terakhir mengalami erupsi pada tahun 1971, Kurikoma yang terakhir erupsi tahun 1950, Zao yang terakhir erupsi tahun 1940, Azuma yang terakhir erupsi tahun 1977, dan Nasu yang terakhir erupsi tahun 1963.



Sumber
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Bisa Jadi Sarang Kuman, Inilah Benda-benda Paling Kotor di Rumah

Oh Begitu
Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Penyebab dan Cara Mengatasi Biang Keringat

Kita
Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Ahli Ungkap Islandia Bagian Benua yang Tenggelam 10 Juta Tahun Lalu

Oh Begitu
Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Banyak Lansia di Indonesia, Tenaga Kesehatan Harus Paham Pentingnya Healthy Aging

Oh Begitu
Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Kamasutra Satwa: Kibaskan Ekornya ke Samping, Tanda Anjing Betina Siap Kawin

Oh Begitu
Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Tanda Pasien Covid-19 Memburuk Saat Isoman Menurut Satgas Covid-19

Oh Begitu
Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Penemuan Obat Antivirus Ini Lahirkan Obat untuk Lawan Virus dari Herpes, HIV hingga Covid-19

Oh Begitu
Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Isu Doping Atlet Pesaing Windy Cantika Aisah, Apa Itu Doping dan Risikonya?

Oh Begitu
Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Perjalanan Vaksin Nusantara, Kehebohan dan Pelajarannya

Oh Begitu
6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

6 Tips Minum Kopi Agar Lebih Menyehatkan Tubuh

Oh Begitu
Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Pantai Alaska Diguncang Gempa M 7,8 Tak Berpotensi Tsunami di Indonesia

Oh Begitu
Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Syarat Rumah yang Bisa Dipakai Isolasi Mandiri Menurut Dokter

Oh Begitu
Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Satu Dosis Vaksin AstraZeneca 82 Persen Efektif Lawan Varian Beta dan Gamma

Oh Begitu
Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Tingkat Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Capai 36 Persen, Ini Penyebabnya

Oh Begitu
Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan, Ini Faktanya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X