Kompas.com - 20/06/2013, 22:42 WIB
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulu Belu di Tanggamus, Provinsi Lampung, yang mulai beroperasi sejak Januari 2013. KOMPAS/YULVIANUS HARJONOPembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulu Belu di Tanggamus, Provinsi Lampung, yang mulai beroperasi sejak Januari 2013.
|
EditorYunanto Wiji Utomo

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski harga bahan bakar minyak dinaikkan, masyarakat belum bisa memanfaatkan energi baru dan terbarukan. Biofuel, yakni bahan bakar nabati, tidak berpeluang karena harga produksi lebih tinggi. Adapun gas alam dan panas bumi masih terhambat infrastruktur.

”Biofuel yang terdiri dari biodiesel dan bioetanol beban produksinya Rp 9.000-Rp 10.500 per liter. Kenaikan bahan bakar solar untuk diesel menjadi Rp 5.500 dan premium Rp 6.500, tetap tidak memberi peluang produksi biofuel,” kata Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Unggul Priyanto, Rabu (19/6/2013), di Jakarta.

BPPT telah mengembangkan berbagai teknologi yang siap diaplikasikan. Beberapa teknologi di antaranya meliputi pengolahan biofuel dari minyak sawit serta turbin dan generator pembangkit listrik dari panas bumi.

Unggul mengatakan, gas alam saat ini diperkirakan berharga Rp 3.100, setara 1 liter premium. Listrik panas bumi 10-18 sen dollar AS per kilowatt jam. Harga ini lebih rendah daripada harga listrik dengan bahan bakar solar yang mencapai 36 sen dollar AS.

”Meski demikian, gas alam memiliki hambatan infrastruktur dalam pendistribusian melalui jaringan pipa. Produksi listrik panas bumi sering terhambat peraturan pembukaan lahan di hutan konservasi. Padahal, sumber panas bumi banyak terdapat di hutan lindung,” kata Unggul.

Pemanfaatan panas bumi saat ini baru sekitar 4 persen dari potensinya 29 gigawatt. Optimalisasi panas bumi dengan teknologi turbin dan generator oleh perusahaan swasta digencarkan, di antaranya melalui ajang Konferensi GeoPower Indonesia 2013 yang berlangsung 18-19 Juni 2013 di Jakarta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

”Kami memperluas pengembangan panas bumi dengan produksi turbin uap khusus untuk pembangkit listrik tenaga panas bumi,” kata Kepala Unit Bisnis Industrial Power Siemens Energy Markus Tacke dalam siaran pers, kemarin.

Menurut Markus, generasi pembangkit listrik tenaga panas bumi sudah mapan. Berbeda dengan sumber-sumber energi terbarukan lain, energi panas bumi dapat digunakan sepanjang waktu.

Unggul mengatakan, produksi massal turbin dan generator pembangkit listrik panas bumi yang dibuat BPPT saat ini masih menunggu investor. Produksi listrik dengan energi terbarukan akan mengurangi pemanfaatan bahan bakar minyak fosil. (NAW)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Varian Beta dan Omicron dari Satu Negara, Mengapa Afrika Rawan Munculnya Varian Baru Covid-19?

Varian Beta dan Omicron dari Satu Negara, Mengapa Afrika Rawan Munculnya Varian Baru Covid-19?

Oh Begitu
Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Oh Begitu
BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

Fenomena
Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Oh Begitu
Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.