Kompas.com - 20/06/2013, 16:41 WIB
|
EditorYunanto Wiji Utomo

JAKARTA, KOMPAS.com — Kelangsungan hidup orangutan ditentukan oleh manusia. Kajian selama 10 tahun menunjukkan bahwa orangutan punya kemampuan adaptasi yang hebat. Namun, bila habitatnya dirusak oleh manusia, maka orangutan takkan mampu bertahan.

Kajian dilakukan oleh sejumlah peneliti Indonesia, termasuk mahasiswa dan peneliti dari Universitas Nasional, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Borneo Orangutan Survival Foundaton (BOSF) bekerja sama dengan University of Zurich.

Carel P van Schaik, Direktur Institut dan Museum Antropologi, University of Zurich, Swiss, mengatakan bahwa dia telah mengamati orangutan Kalimantan di wilayah Tuanan, Kalimantan Tengah.

Selama 10 tahun, terdapat beberapa periode ketika kemarau berlangsung panjang, antara lain tahun 2006 dan 2009. Curah hujan pada tahun tersebut tergolong sedikit. Namun, orangutan tetap bisa bertahan.

Asap akibat kebakaran hutan biasanya berpengaruh pada produksi buah. Pada tahun 2007 misalnya, asap menyebabkan produksi buah sangat sedikit sehingga mengurangi ketersediaan makanan bagi orangutan. Namun, orangutan masih bisa beradaptasi.

"Mereka menjadi lebih soliter dan lebih diam. Mereka ada dalam survival mode. Metabolisme turun dan otot dikurangi. Mereka berada pada program hemat sehingga semuanya minimal," kata Van Schaik.

Van Schaik menuturkan, dalam kondisi kekurangan buah, orangutan beradaptasi dengan mencari alternatif pangan lain. Mereka memakan jenis makanan lain, seperti daun muda, kulit kayu, dan akar leguminosa.

"Jadi kuncinya sekarang menjaga habitat. Habitat jangan diganggu," kata Van Schaik saat ditemui Kompas.com dalam diskusi 10 Tahun Penelitian Orangutan, Stasiun Penelitian Orangutan Tuanan, Kalimantan Tengah, di Universitas Nasional, Kamis (20/6/2013).

Van Schaik mengatakan, ancaman bagi orangutan sendiri saat ini adalah manusia, lewat konversi lahan menjadi pertambangan dan kelapa sawit. Jika hal itu terus dilanjutkan, maka orangutan dipastikan akan musnah.

"Saya tidak terlalu optimis dengan masa depan orangutan di Indonesia. Tetapi yang penting sekarang adalah menjaga habitat dan memiliki kawasan konservasi untuk orangutan," ungkap Van Schaik.Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.