Kompas.com - 20/03/2013, 19:14 WIB
|
Editoryunan

TEXAS, KOMPAS.com — Mesin penjelajah Mars milik NASA , Curiosity, kembali menyuguhkan informasi baru. Dengan peralatan buatan Rusia, Dynamic Albedo of Neutrons (DAN), Curiosity menemukan bukti adanya hidrogen di Mars yang bisa menjadi petunjuk adanya air.

Deteksi akan keberadaan hidrogen tersebut diperoleh dalam penjelajahan Curiosity di daerah yang sangat kering di Mars. Dalam penjelajahannya, mesin itu mendeteksi kebanyakan hidrogen berada dalam bentuk molekul air (H2O) yang berikatan dengan mineral.

"Kami melihat variasi sinyal di sepanjang lintasan dari tempat pendaratan menuju Teluk Yellowknife," kata Maxim Litvak dari Space Research Institute Moscow yang juga DAN Deputy Principal Investigator.

"Lebih banyak air terdeteksi di Teluk Yellowknife daripada lokasi sebelumnya. Meski demikian, di Teluk Yellowknife kami juga melihat adanya perbedaan yang signifikan," tambahnya seperti dikutip Physorg, Senin (18/3/2013).

Tim peneliti juga menjelaskan bahwa mereka menemukan indikasi bahwa proses lingkungan basah yang memproduksi tanah liat (clay) di Teluk Yellowknife terjadi tanpa membuat banyak perubahan pada campuran elemen kimia yang ada saat ini.

Komposisi elemen dari batuan permukaan yang digali oleh Curiosity cocok dengan komposisi batuan basal. Batuan yang digali mengandung proporsi elemen penyusun, seperti silikon, aluminum, magnesium, dan besi yang menyerupai komposisi batuan basal.

"Komposisi unsur dalam batuan di Yellowknife tidak berubah banyak oleh perubahan mineral," kata anggota tim peneliti lain misi ini, Mariek Schmidt, dari Brock University di Kanada.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Setelah membersihkan debu, kami mendapat hasil analisis yang menunjukkan kalau klasifikasi batuan di sana adalah batuan dengan komposisi seperti batuan basal," jelasnya.

Sebelum debu yang melekat di batuan dibersihkan, peneliti sempat kebingungan karena komposisi debu tersebut. Berdasarkan hasil analisis instrumen Alpha Particle X-ray Spectrometer (APXS), komposisi unsurnya kurang sesuai untuk dikategorikan sebagai batuan basal karena ada sulfur.

Namun, setelah debu tersebut dibersihkan oleh Curiosity menggunakan sikat, APXS melihat tidak terlalu banyak sulfur di batuan tersebut. Hal ini yang mengindikasikan kalau batuan itu memiliki komposisi unsur yang serupa dengan batuan basal.

Peneliti menduga, batu-batuan dasar di Yellowknife terbentuk ketika batuan basal original hancur menjadi pecahan, kemudian mengalami perpindahan dan terkumpulkan kembali sebagai partikel sedimen dan berubah secara mineral ketika terkena air.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.