Konsekuensi Jagung Transgenik

Kompas.com - 19/09/2012, 01:49 WIB
Editor

AGNES ARISTIARINI

Di tengah ingar-bingar politik dalam negeri, berita tentang rekomendasi Komisi Keamanan Hayati untuk keamanan pakan jagung transgenik bak daun jatuh ditelan arus. Tak banyak tanggapan berarti meski konsekuensinya beragam, dari dampak lingkungan, ketergantungan petani, hingga kedaulatan pangan.

Jagung yang direkomendasikan itu adalah RR NK603 dan Bt Mon89034. Varietas RR NK603 adalah jagung yang mendapat introduksi gen bakteri tanah Agrobacterium sp. Dengan rekayasa genetik ini, RR NK603 menjadi tahan terhadap glyphosate, bahan aktif dalam herbisida Roundup.

Cara kerja glyphosate adalah menghambat enzim yang berfungsi dalam biosintesis asam amino tertentu dalam tanaman dan mikroorganisme yang berperan dalam pertumbuhan. Maka, idenya adalah mengembangkan suatu areal pertanaman jagung transgenik yang gulmanya bisa dibasmi dengan herbisida khusus tanpa khawatir tanaman utamanya ikut mati. Disingkat RR dari Roundup Ready, RR NK603 dan Roundup adalah produk perusahaan multinasional Monsanto.

Varietas Bt Mon89034 juga dihasilkan oleh Monsanto. Kode Bt merupakan singkatan dari bakteri Bacillus thuringiensis, yang gennya disisipkan ke jagung melalui rekayasa genetika. Gen yang diambil dari bakteri Bt tersebut adalah gen penyandi protein Cry1A.105 dan Cry2Ab2, keduanya dapat mematikan larva hama penggerek batang jagung lepidoptera. Hama ini menurunkan hasil panen jagung hingga 30 persen.

Kontribusi jagung

Jagung adalah tanaman pangan penting kedua setelah padi, baik dari sisi produksi maupun nilainya. Sebagian besar areal pertanaman jagung terdapat di lahan kering, baru sisanya di lahan irigasi dan tadah hujan. Daerah penghasil utama jagung di Indonesia adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur.

Kebutuhan jagung untuk bahan baku industri makanan, minuman, dan pakan terus meningkat 10-15 persen setiap tahun. Namun, berbagai upaya untuk meningkatkan produksi jagung nasional belum juga mampu menutup kebutuhan. Data dari Balai Penelitian Tanaman Serealia menunjukkan, impor jagung segar meningkat 4,5 kali lipat dari 338.798 ton tahun 2009 menjadi 1.527.516 ton tahun 2010. Demikian pula halnya dengan impor jagung olahan yang meningkat tiga kali lipat dari 82.433 ton tahun 2009 menjadi 259.295 ton tahun 2010.

Persoalan utama pengembangan jagung di Indonesia adalah belum meratanya penggunaan benih jagung yang berkualitas, belum intensifnya pengelolaan budidaya dan penanganan pascapanennya. Tidaklah mengherankan bila upaya peningkatan produksi jagung juga lebih ditekankan pada produktivitas, bukan perluasan lahan.

Varietas baru

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.