Kompas.com - 12/04/2012, 08:39 WIB
EditorTri Wahono

KOMPAS.com - Kawasan Bandung dan sekitarnya bisa diibaratkan mangkuk bentukan bumi ratusan ribu tahun lalu. Bentangan alam itu biasa disebut Cekungan Bandung. Cekungan Bandung berbentuk elips dengan arah timur tenggara-barat laut, dimulai dari Nagreg di sebelah timur sampai ke Padalarang di sebelah barat. Jarak horizontal cekungan sekitar 60 kilometer. Adapun jarak utara-selatan sekitar 40 kilometer. Cekungan itu kian nyata jika dikaitkan dengan kurungan gunung di sekitarnya.

Geolog dari Pusat Survei Geologi, Sutikno Bronto dan Udi Hartono, dalam tulisannya, Potensi Sumber Daya Geologi di Daerah Cekungan Bandung dan Sekitarnya (2006), menyebutkan, Cekungan Bandung dikelilingi oleh jajaran kerucut gunung api berumur kuarter. Hanya bagian barat Cekungan Bandung yang dibatasi batuan berumur tersier dan batu gamping.

Penelitian sebelumnya menunjukkan pengendapan dalam Cekungan Bandung dimulai 126.000 tahun lalu, berupa batuan gunung api dan sedimen danau. Di antara tanah purba dan batuan sedimen terbawah Cekungan Bandung itu ada banyak lapisan abu gunung api sebagai penanda adanya kegiatan gunung api yang mengawali pembentukan Danau Bandung. Adanya aliran air Sungai Citarum yang terbendung akibat lontaran batuan Gunung Sunda disebut-sebut ikut mengisi cekungan raksasa itu.

Geolog dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Eko Yulianto, mengatakan, terjadinya danau yang merendam Kota Bandung itu melalui beberapa tahap dan terakhir terbentuk sekitar 20.000 tahun lalu.

Konon, raibnya danau itu disebabkan kebocoran. Namun, ada yang berargumen itu diakibatkan pendangkalan karena adanya material yang terbawa ke danau dan mengendap.

Menurut Eko Yulianto, endapan danau purba itu pula yang menyebabkan kawasan Cekungan Bandung bertanah lunak.

Sutikno Bronto dan Udi Hartono mencurigai Cekungan Bandung sebagai sistem kaldera gunung api jamak. Terdapat pola menyerupai busur mulai dari Cianjur-Jatiluhur di sebelah barat laut, Subang di bagian utara dan timur laut, serta Gunung Tampomas-Majalengka di sebelah timur laut. Pola kelurusan ini dikenal sebagai patahan Bandung Raya yang terbentuk dari gabungan Patahan Cimandiri, Karawang, Subang, dan Baribis. Di selatan sistem patahan itu terdapat patahan lain seperti Padalarang, Lembang, Tampomas, dan Kuningan-Cilacap.

Pola cembung itu menunjukkan adanya gaya yang bersumber dari satu tempat lalu menyebar. Salah satu dugaannya ialah keberadaan gaya vertikal dari bawah Cekungan Bandung dan sekitarnya. Gaya tegak lurus itu diduga berasal dari batuan dasar yang kemungkinan berbentuk benua kecil di bawah Bandung. Perkiraan lainnya ialah magma yang membeku atau justru sedang membangun tenaga.(Tim Penulis Ekspedisi Cincin Api)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
     
    Pilihan Untukmu


    Video Pilihan

    26th

    Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

    Syarat & Ketentuan
    Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
    Laporkan Komentar
    Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

    Terkini Lainnya

    Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

    Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

    Oh Begitu
    Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

    Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

    Oh Begitu
    Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

    Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

    Kita
    Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

    Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

    Oh Begitu
    Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

    Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

    Prof Cilik
    Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

    Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

    Oh Begitu
    Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

    Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

    Oh Begitu
    Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

    Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

    Oh Begitu
    Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

    Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

    Oh Begitu
    Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

    Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

    Oh Begitu
    Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

    Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

    Oh Begitu
    Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

    Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

    Kita
    5 Objek Paling Terang di Tata Surya

    5 Objek Paling Terang di Tata Surya

    Oh Begitu
    Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

    Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

    Fenomena
    Trenggiling Makan Apa?

    Trenggiling Makan Apa?

    Oh Begitu
    komentar di artikel lainnya
    Close Ads
    Verifikasi akun KG Media ID
    Verifikasi akun KG Media ID

    Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

    Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

    Lengkapi Profil
    Lengkapi Profil

    Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.