2024, Es Puncak Jaya Diperkirakan Hilang

Kompas.com - 12/10/2011, 02:35 WIB
Editor

Jakarta, Kompas - Lapisan es Puncak Jaya, Papua, diperkirakan akan hilang pada tahun 2024. Perhitungan tersebut didasarkan atas analisis data empiris menggunakan pendekatan linier yang dikerjakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

”Analisis itu mengejutkan kami,” kata Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Klimatologi dan Kualitas Udara BMKG Dodo Gunawan pada diskusi bulanan ”Scientific Journal Club” di Jakarta, Selasa (11/10). Bulan Mei-Juni 2010, BMKG bekerja sama dengan Universitas Ohio dan Universitas Columbia, Amerika Serikat, mengadakan penelitian sejarah iklim dan lingkungan berdasarkan inti es di Puncak Jaya.

Pada ekspedisi tahun lalu itu, luas lapisan es (gletser) di Puncak Jaya diperkirakan mencapai dua kilometer persegi dengan ketebalan sekitar 30 meter. Adapun prediksi hilangnya lapisan es juga didasarkan atas perbandingan ketinggian gletser di Puncak Jaya (4.884 meter di atas permukaan laut/mdpl) dan luasannya.

Tim peneliti, yang dipimpin ahli gletser dari AS, Prof Lonnie Thompson, mengambil sampel tiga inti es di tiga titik di lokasi Puncak Soekarno dan Puncak Sumantri.

Pada saat itu, tim menjumpai fenomena mengejutkan, yakni betapa cepatnya penyusutan gletser. Dalam dua minggu, lapisan es menyusut sebanyak 30 sentimeter, yang terlihat dari jejak es berbentuk kotak di lokasi tenda didirikan.

”Profesor saya (Lonnie Thompson) baru sekali menemukan fenomena semacam itu,” kata anggota staf litbang BMKG, Donaldi Sukma Permana, yang baru saja lulus program master Paleoiklim dari Universitas Ohio. Thompson dikenal sebagai salah satu pakar gletser di dunia.

Diakui Donaldi, penyusutan es terkait banyak hal. Namun, fakta itu tetap saja membuat anggota tim terkejut. Ia dan Dodo Gunawan terlibat langsung dalam ekspedisi tahun lalu itu.

Dampak penyusutan

Menurut Dodo, dampak pasti penyusutan dan hilangnya gletser Puncak Jaya belum dianalisis lebih rinci. Yang pasti, variasi suhu kemungkinan besar akan berubah. Begitu pula sistem hidrologi di sana.

Berdasarkan analisis data dari 13 sensor otomatis pemantau cuaca (AWS) milik PT Freeport Indonesia di Mimika, Papua, tahun 2010, pada ketinggian di atas 600 mdpl, hujan lebih sering terjadi di siang hari. Kondisi sebaliknya terjadi di daerah yang berada di bawah 600 mdpl.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X