Menelisik Jejak Migrasi Purba

Kompas.com - 06/08/2011, 07:04 WIB
EditorTri Wahono

Di Goa Harimau, peneliti menemukan areal kubur dan berbagai temuan logam dan tembikar. Didapatkan 35 orang dewasa dan anak-anak yang dikubur tunggal ataupun bersama- sama. Di goa juga ditemukan lukisan dinding yang menjadi temuan pertama. Selama ini, Sumatera dianggap tidak memiliki peninggalan prasejarah berbentuk lukisan goa.

Menurut Wahyu, temuan di Goa Harimau merupakan jejak manusia modern Austronesia yang hidup 4.000 tahun lalu. Setelah memindahkan temuan dan membuat cetakan hasil temuan, para peneliti tetap menggali untuk mencari hunian tertua pada masa kehidupan Homo erectus.

Spesies penting

Homo erectus menduduki posisi penting dalam evolusi manusia karena merupakan pendahulu langsung dari Homo sapiens (manusia modern) saat ini.

Menurut Harry Widianto dari Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran, dalam jalur proses evolusi, Homo erectus dikenal memiliki perkembangan kebudayaan yang pesat.

Manusia ini merupakan pencipta dan pengguna alat batu yang andal. Mereka mengembangkan teknologi tertentu, seperti kapak genggam.

Homo erectus juga memiliki ketangguhan dalam beradaptasi dengan alam. Mereka merupakan spesies pertama yang meninggalkan tempat leluhur mereka di Afrika 1,8 juta tahun lalu. Mereka mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim di dunia, mulai dari iklim dingin di Eropa hingga iklim panas di sepanjang khatulistiwa.

Homo erectus bermigrasi melalui jembatan darat yang terbentuk karena menyusutnya air laut. Penyusutan ini menghilangkan Laut China Selatan dan Laut Jawa sehingga dasar laut menjadi lembah. Lembah itu yang menjadi jalur migrasi Homo erectus ke Indonesia. "Mereka tidak melalui Pulau Sumatera dan Kalimantan karena pada masa itu kedua pulau tersebut merupakan dataran tinggi," kata Harry.

Di Indonesia, Homo erectus hanya ditemukan di Pulau Jawa. Hal ini disebabkan karena Pulau Jawa merupakan 'jalan buntu' bagi manusia untuk bermigrasi ke arah timur.

Di sebelah timur, Homo erectus dihadang oleh palung antara Bali dan Lombok yang dalamnya mencapai 8.000 meter dan masih berupa lautan. Sementara Sumatera masih berupa dataran tinggi yang sulit didaki. Saat ini, peneliti terus mencari jejak untuk menemukan hunian tertua manusia itu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.