Selamatkan Kebudayaan Melalui Permainan

Kompas.com - 12/05/2011, 21:42 WIB
EditorAgus Mulyadi

Rasa bangga menyeruak, saat menghadiri Ekspo Inovasi Mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI-ITB) di Auditorium ITB, 9 Mei 2011.

Di sana dipamerkan berbagai karya hasil ciptaan mahasiswa, yang mampu meyakinkan semua pengunjung bahwa sumber daya manusia Indonesia sanggup bersaing di bidang teknologi dengan negara lain. Tidak semuanya merupakan penemuan baru, tapi tetap saja tidak mengurangi rasa bangga yang membuncah di dada.

Yang lebih spesial lagi, beberapa inovasi teknologi ternyata tidak melupakan budaya khas Indonesia. Bahkan, produk yang dihasilkan justru bermaksud untuk memperkenalkan budaya nusantara kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih akrab.

Sebut saja Thousand Hands Revolution, aplikasi permainan yang mengharuskan penggunanya bertepuk tangan, menepuk pundak dan paha melalui sensor yang disematkan di baju yang didesain khusus. Bertepuk dengan tempo yang diprogram khusus dalam aplikasinya, pemain sebetulnya menirukan gerakan tarian saman yang mengeksploitasi tepukan.

Aplikasi ini lahir dari kerja sama dari lima mahasiswi yakni Nurfitri Ambarsanti, Karina Asrimaya, Nadhilah Shabrina, Sesdika Sansani, dan Hapsari.

Inspirasi mengenai permainan tersebut datang dari permainan Dance Dance Revolution (DDR) yang mewabah pada tahun 2008-2009. DDR dimainkan dengan cara menginjak tombol di panel di bawah pemain dalam tempo tertentu, sehingga menyerupai gerakan joget.

Karina menuturkan, tari saman yang dikemas menjadi permainan memang bertujuan agar memperkenalkan kebudayaan sehingga tidak dilupakan. Generasi muda yang akrab teknologi pun dirasakan tidak akan kesulitan dalam menggunakannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di sisi lain, ada juga aplikasi gamelan yang diciptakan mahasiswa lainnya, Ihwan Adam Ardisasmita, untuk telepon genggam berlayar sentuh, sementara baru tersedia untuk merk Nokia. Adam menuturkan, terbuka kemungkinan untuk mengembangkan aplikasi untuk platform lainnya seperti Android atau untuk iOs yang dipakai produk Apple.

Adam membuat aplikasi yang memungkinkan penggunanya bisa menggenggam enam perangkat gamelan sun da padahal nyatanya mustahil terwujud karena ukurannya yang besar.

Ada enam perangkat gamelan yang ditanamkan dalam aplikasi tersebut yakni goong, gambang, kendang, bonang, saron, serta jengglong. Pengguna aplikasi tinggal menyentuh bagian perangkat untuk mendengarkan suara yang sebelumnya direkam secara terpisah. Aplikasi ini diikutsertakan dalam Nokia Tap That App Award, kontes pengembangan aplikasi yang disponsori Nokia dan saat ini sudah diunduh hingga 12.000 kali dalam waktu dua bulan.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.