Pelopor Fotografi Buta di Indonesia

Kompas.com - 18/11/2010, 02:43 WIB
Editor

Inki Rinaldi

Risman Marah mulai memotret sejak 1972. Kegelisahan dan kebosanan pada teknik fotografi membuat dia bereksperimen dengan fotografi buta yang melibatkan penyandang tunanetra guna memotret obyek-obyek yang biasa diabadikan oleh orang-orang dengan penglihatan.

”Saya sudah jenuh. Saya memotret sejak 1972,” kata H Surisman Marah M Sn saat ditemui di sela-sela reuni akbar alumni Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI) atau Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) yang kini berganti nama menjadi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 4 Kota Padang di Padang, Sumatera Barat, akhir September lalu.

Kejenuhan itu mencapai titik kulminasi karena ia merasa tak ada lagi yang ingin dicapainya dalam dunia fotografi. Berbagai penghargaan yang sudah digenggamnya semakin mempertegas kegelisahan itu.

Apalagi ia sesungguhnya adalah seorang pelukis. Kenyataan yang semakin membuat dia ingin mendobrak pakem ilmu fotografi dan menuangkannya menjadi karya yang bebas, ekspresif, bahkan abstrak.

Maka, sejumlah penyandang tunanetra pun diajaknya memotret berbagai obyek. Khusus untuk itu, Risman memilih penyandang tunanetra sejak lahir. ”Sebab, mereka yang pernah melihat sudah tahu garis horizon sehingga saat diminta memotret, akan langsung mencari sumber suara dan memperkirakan komposisinya,” kata Risman sembari memeragakan orang memegang kamera.

Mulai merencanakan konsep itu sejak 2006, Risman mewujudkan gagasannya pada 2008 dengan mengajak tiga penyandang tunanetra yang masing-masing dibekalinya kamera Nikon DSLR. Dengan bukaan diafragma tinggi dan kecepatan rana otomatis, foto-foto yang dihasilkan dari obyek di kawasan pantai, candi, dan pepohonan di kawasan pegunungan memiliki nuansa yang tak biasa.

Dari sekitar 1.700 karya yang dihasilkan, 20 karya foto di antaranya dipamerkan di Yogyakarta pada 15 Agustus 2008. ”Saya kan basisnya pelukis, jadi mengapa tak mencari hal-hal yang keluar dari pakem fotografi,” katanya.

Risman adalah pendobrak kreativitas dunia fotografi Indonesia dengan teknik fotografi buta yang diciptakannya. Namun, di dunia internasional, berdasarkan catatan Kompas, Anja Ligtenberg, fotografer profesional yang sempat bermukim di New York, Amerika Serikat, juga melakukan hal serupa dengan proyek bernama Seeing The Unseen yang lalu dijalankan pula oleh Skyway Foundation pada 2004-2006.

Belajar ke Yogyakarta

Halaman:


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X