Hugeng, Keindahan Kupu-kupu Indonesia

Kompas.com - 25/05/2010, 13:48 WIB
Editorwsn

”Dulu tidak ada yang mengajari dan harus belajar sendiri. Bahkan, sampai sekarang pun saya kesulitan mencari teman di Indonesia yang sehobi dan memiliki perhatian tinggi pada kehidupan kupu-kupu, kata Hugeng.

Terpengaruh buku yang menyebutkan ada banyak kupu-kupu di daerah Indonesia, ia pun mulai berkeliling Indonesia mencari beragam jenis kupu-kupu dengan biaya pribadi. Sumatera, Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua dijelajahinya dengan biaya pribadi.

”Kadang kala tidak selalu mencari kupu-kupu, tapi sekadar ingin tahu daun apa yang jadi makanannya atau di pohon apa kupu-kupu itu menempatkan kepompongnya,” katanya.

Sembari menuntaskan rasa ingin tahunya, Hugeng tidak lupa menularkan ilmunya kepada masyarakat sekitar. Ia menganggap masyarakat adalah garda terdepan dalam pelestarian kupu-kupu itu. Bahkan, ia juga tak segan mengajak masyarakat memelihara kupu-kupu guna memperbanyak populasi sekaligus menambah penghasilan penduduk.

Salah satunya adalah kelompok masyarakat di Gunung Halimun yang mengembangbiakkan Papilio karna sejak tahun 1993. Satu pasang Papilio karna kini dijual Rp 25.000. Ada juga masyarakat di Pangalengan, Kabupaten Bandung, yang mengembangbiakkan Troides vandepoli yang harganya Rp 200.000 per pasang. Selain itu, ada juga masyarakat di Pulau Seram yang mengembangbiakkan Ornitoptera priamus. Hal yang sama juga dia lakukan pada masyarakat di Pulau Obi, Maluku Utara, untuk Troides aesacus Ney, 1903, dan Troides prattorum Joicey & Talbot, 1922, di sekitar Pulau Buru.

Selain menambah populasi, langkah ini juga berguna meningkatkan rasa kepedulian terhadap lingkungan. Sebelumnya, masyarakat setempat tidak mengetahui cara tepat mencari kupu-kupu.

”Warga Gunung Wayang pernah mengambil kepompong kupu-kupu jenis Polyura dehanii Westwood, 1850. Mereka menebang pohon untuk mengambil kepompong. Saya bilang kebiasaan itu harus diubah karena penebangan akan menghilangkan habitat kupu-kupu. Kini mereka memanjat bila ingin mendapat kepompong,” katanya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Peduli lingkungan

Kini, setelah 39 tahun bergaul dengan kupu-kupu, Hugeng tidak ingin pengetahuannya menjadi miliknya sendiri. Rencananya, dia akan membuat buku tentang kupu-kupu. Saat ini, ia sudah memiliki koleksi dan dokumentasi 1.000 spesies kupu-kupu. Tidak lupa, ia juga mencantumkan berbagai macam informasi tentang kupu-kupu itu. Di antaranya ukuran, siklus hidup, habitat, makanan, pemangsa, hingga kebiasaannya.

”Data seperti ini masih jarang diketahui orang awam. Saya berharap buku itu segera terealisasi dan dibagikan gratis kepada masyarakat. Rencananya akan dibantu Institut Teknologi Bandung atau LIPI. Saya sudah sering membantu mereka mengenai data kupu-kupu Indonesia,” kata Hugeng.

Ia juga kini menjadi konsultan di Taman Kupu-kupu Cihanjuang, Bandung Barat, Jawa Barat. Taman Kupu-kupu yang terletak di Jalan Raya Cihanjuang, Cibaligo, ini adalah gabungan wahana pendidikan dan hiburan baru bagi masyarakat. Di lahan seluas 1,7 hektar ditangkarkan sekitar 1.700 kepompong yang terdiri dari 20 jenis kupu-kupu khas Indonesia beserta tanaman yang menjadi makanannya.

”Sebagai sarana pendidikan, di Taman Kupu-kupu pengunjung bisa melihat fase hidup kupu-kupu. Dimulai dari perkawinan, telur, ulat, kepompong, hingga berubah menjadi kupu-kupu baru, ” ujar Hugeng.

Hugeng mengatakan, untuk Taman Kupu-kupu ini, ia memilih ragam kupu-kupu yang mudah dan sudah pernah dilihat masyarakat. Di antaranya kupu-kupu yang tinggal di kebun seperti Papilio memnon dan Papilio polytes. Namun, ia juga menyertakan kupu-kupu yang biasa tinggal di hutan, seperti Papilio ambrax dari Papua atau Papilio helenus dari Sumatera.

”Kami juga mengajak masyarakat sekitar untuk menambah penghasilan, seperti membuat pigura bagi kupu-kupu yang telah diawetkan. Kupu-kupu tidak hanya menjadi penjaga ekosistem, tapi juga mampu menghidupi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.

 
 
AYAM HUGENG HUNIANTO
• Lahir: Semarang, 22 Desember 1953
 
• Istri: Tini Suhartini (55)
• Anak:
- Ari Hunianto (30)
- Luciana Hunianto (25)
• Pendidikan:
- SMA Theresiana Semarang (1968-1970)
- SMA Gresida Bogor (1970-1971)

Halaman:


25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X