Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hugeng, Keindahan Kupu-kupu Indonesia

Kompas.com - 25/05/2010, 13:48 WIB
Editorwsn

Cornelius Helmy

KOMPAS.com - Ayam Hugeng Hunianto masih penasaran ingin menemukan kupu-kupu jenis Papilio lampsacus Boisduval, 1836, yang konon hanya hidup di Cibodas, Kabupaten Bogor. Terakhir kali, ia melihat Papilio lampsacus Boisduval di Cibodas tahun 1986. Namun, empat tahun kemudian hingga kini, ia tidak lagi mendengar adanya kupu-kupu berwarna kuning hitam ini.

Tahun 1998-an, ia bahkan pernah menghabiskan waktu hingga selama empat bulan dan uang Rp 12 juta di tempat yang sama. Tetapi, tak satu pun kupu-kupu jenis itu yang dia lihat. Kekhawatiran muncul: kupu-kupu itu punah.

”Kekhawatiran saya ternyata jadi kenyataan. Tahun 2007, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menyatakan P. lampsacus sudah punah. Hal itu menjadi pelajaran bagi semua pihak di Cibodas. Keserakahan manusia lewat pembangunan vila dan rumah menjadi penyebab utama kepunahannya,” kata Hugeng.

Kepunahan P. lampsacus membuat dia semakin khawatir dengan keberadaan kupu-kupu endemis Indonesia lainnya. Padahal, sekitar 200 spesies kupu-kupu yang memiliki warna cerah—beberapa di antaranya berukuran besar—hidup endemis di Indonesia. Di antaranya jenis Troides aesacus Ney, 1903, alias kupu-kupu sayap burung yang hanya hidup di Pulau Obi, Maluku Utara, dan Troides prattorum Joicey & Talbot, 1922, yang hanya hidup di sekitar bekas kompleks tahanan politik di Pulau Buru.

”Untuk menjaga keasliannya, saya coba mengumpulkan kupu-kupu endemis yang sudah mati. Sekadar berjaga-jaga bila suatu waktu hilang akibat ulah manusia, maka tidak ada orang lain di dunia ini nanti yang akan melihatnya lagi,” kata Hugeng.

Otodidak

Perkenalan Hugeng dengan kupu-kupu bermula ketika ia membaca buku berjudul De Vlinders van Java karya Roepke (1935). Dalam buku itu terdapat gambar beraneka macam kupu-kupu dari Jawa yang warna dan bentuknya beragam.

Selesai dengan buku itu, ia lantas mengikuti Roepke mengumpulkan kupu-kupu dan ingin mempelajarinya. Sekitar tahun 1970, ia masih ingat kupu-kupu pertamanya adalah jenis Papilio memnon Linnaeus, 1758, atau kupu-kupu hitam jeruk karena banyak ditemukan di sekitar pohon jeruk.

Perlahan, rasa ingin tahunya bertambah besar setelah membaca beragam buku terbitan luar negeri seperti The Butterflies of the World dan The Butterflies of Malay Peninsula. Dari situ ia mendapatkan semakin banyak pelajaran dan pengetahuan mengenai habitat kupu-kupu, makanan, siklus hidup, hingga kebiasaannya.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Video Pilihan Video Lainnya >

27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+