Meteor dan Kecintaan pada Semesta

Kompas.com - 12/05/2010, 08:39 WIB
Editorwsn

Oleh AGNES ARISTIARINI

KOMPAS.com — Di akhir hujan meteor Lyrid yang berlangsung pada April lalu, meteorit menimpa sebuah rumah di permukiman padat Kelurahan Malakasari, Duren Sawit, Jakarta Timur. Luncuran meteor yang biasanya menjadi pemandangan indah di langit ternyata jadi bencana ketika tak sepenuhnya terbakar saat memasuki atmosfer.

Meteor adalah partikel antariksa yang terbakar di atmosfer Bumi sehingga menghasilkan cahaya terang pada malam hari. Partikel tersebut umumnya berasal dari semburan komet saat bergerak mendekati Matahari. Meteor yang berukuran besar dan tidak habis terbakar, ketika sampai di Bumi disebut meteorit.

Namun, jangan salah. Meski harus dipastikan dari arah radian mana meluncurnya, kemungkinan besar meteorit ini tidak berasal dari Lyrid. "Hujan meteor berasal dari semburan partikel yang tersebar sepanjang lintasan orbit komet. Partikel ini umumnya berukuran kecil sehingga habis terbakar di atmosfer," kata Hendro Setyanto, alumnus Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung, yang sekarang mengembangkan observatorium keliling.

Kesetiaan Bumi mengitari Matahari sebagai induknya memang membuat Bumi tidak terbebas dari ancaman tabrakan dengan benda-benda langit, seperti asteroid, komet, dan meteor. Dengan kemajuan teknologi sekarang, ancaman bertambah lagi dari sampah antariksa. Ini berupa satelit bekas yang menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) jumlahnya lebih dari 15.000 benda.

Tergantung ukuran

Ancaman ini menjadi berat bila benda yang menabrak Bumi berukuran amat besar sehingga masih bersisa banyak ketika melewati atmosfer. Meteorit yang jatuh di Duren Sawit tinggal sebesar buah kelapa ketika menimpa rumah. Akan tetapi, banyak tabrakan lain yang dampaknya luar biasa.

Kejadian di Tunguska, 30 Juni 1908, adalah salah satu contohnya. Ledakan dahsyat di dekat Sungai Podkamennaya Tunguska, Rusia, telah memorakporandakan alam liar Siberia seluas 2.072 kilometer persegi. Ledakan itu terasa di sebagian besar kawasan Asia dan tercatat pada seismograf di Inggris. Penduduk melaporkan ada api menyala di langit dan jutaan pohon roboh di sekelilingnya.

Meski ekspedisi peneliti baru berlangsung tahun 1927, para ilmuwan hingga kini percaya ledakan terjadi pada ribuan kilometer di atas kawasan Siberia saat meteor besar memasuki atmosfer. Energi yang dilepas setara dengan 185 bom atom yang dijatuhkan Amerika di Hiroshima, Jepang. Dampaknya adalah pohon-pohon tegak dengan cabang-cabangnya dan kulit pohon yang terkelupas. Ciri kejutan gelombang panas ini baru terlihat lagi tahun 1945 di Hiroshima.

Peristiwa lain yang tidak kalah fenomenal adalah tabrakan Bumi dengan komet, 65 juta tahun silam. Berbagai simulasi ilmiah menunjukkan tabrakan membuat Bumi gelap selama beberapa bulan, mematikan sumber pangan para makhluk purba, dan melenyapkan dinosaurus dari muka Bumi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X