Mari Menelusuri Kejayaan Kereta Masa Silam

Kompas.com - 14/11/2009, 06:05 WIB
Editorlou

Beberapa tahun kemudian, PT Kereta Api (ketika itu bernama Perusahaan Negara Kereta Api/PNKA) merestorasi stasiun tersebut. Sekitar 1954, fungsi stasiun diturunkan menjadi stoplat (stasiun mini) yang merupakan lokasi pemberhentian sementara kereta, dan tidak lagi melayani penjualan tiket penumpang.

Kala itu, kondisi jalur Kutoarjo-Solo baru didukung satu rel, sehingga harus ada kereta yang mengalah apabila berpapasan dengan kereta lain. Stasiun Kalimenur akhirnya berhenti beroperasi tahun 1974. Kondisi stasiun di daerah tikungan rel membuatnya tak layak lagi menjadi tempat pemberhentian kereta berkecepatan tinggi, di atas 80 kilometer per jam.

Aktivitas di sekitar stasiun ikut lumpuh. Menurut Bambang, sekitar awal dekade 1980-an, stasiun ini masih kerap disinggahi warga yang ingin berekreasi. Biasanya, menjelang sore banyak keluarga membawa anak-anak mereka di tepi stasiun untuk melihat kereta-kereta yang melintas. "Mungkin mereka masih kangen naik sepur bumel. He, he, he," ujar Bambang terkekeh seraya memperlihatkan giginya yang ompong.

Makin lama, jumlah pengunjung bekas Stasiun Kalimenur terus berkurang. Kondisi bangunan yang tidak terawat membuat mereka enggan menginjakkan kaki di sana. Kalimenur pun terlantar.

Kondisi naas juga menimpa Stasiun Pakualaman di Siluwok, Desa Tawangsari, Kecamatan Pengasih. Stasiun kecil yang seusia dengan Stasiun Kalimenur itu kini justru tinggal puing-puing. Pakualaman juga menjadi sasaran pengeboman dalam Agresi Militer II, namun tidak dibangun kembali oleh PNKA.

Bekas stasiun yang kondisinya relatif baik adalah Stasiun Kedundang di Kecamatan Temon. Stasiun ini ditutup tahun 2007 setelah jalur ganda Kutoarjo-Solo resmi digunakan.

Bangunan Stasiun Kedundang yang dicat biru masih kokoh, meski kondisi dalamnya kotor. Bangku di ruang tunggu penumpang, loket peron, dan ruang kerja petugas stasiun tetap utuh. Hanya pintu, jendela, dan langit-langit stasiun saja yang mulai rusak.

Kasimin (50), penjaga pintu perlintasan kereta Kaligintung, 100 meter dari Stasiun Kedunang, menyayangkan kondisi bangunan yang terlantar itu. Walau sudah tidak difungsikan, sebaiknya gedung tetap dirawat karena merupakan bagian dari sejarah perjuangan bangsa, termasuk sejarah perkeretaapian Indonesia.

"Dulu, stasiun ini pernah menjadi lokasi pengiriman logistik bagi tentara nasional yang berjuang di Purworejo dan Yogyakarta. Penumpang membawa karung beras, pisang, kelapa, sayur, dan ayam adalah pemandangan biasa," kisah Kasimin.

Sayangnya, kisah sejarah yang melatarbelakangi stasiun-s tasiun tua ini hanya tersampaikan secara lisan antarwarga Kulon Progo. Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kulon Progo Sigit Wisnutomo mengaku tidak punya catatan sejarah apa pun tentang stasiun tua.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.