Salin Artikel

Ada Virus Corona Kelelawar di Gorontalo dan Garut? Ini Penjelasan Ahli

KOMPAS.com - Para ilmuwan Indonesia pernah melakukan penelitian terkait coronavirus atau virus corona yang berasal dari kelelawar, terhadap potensi infeksi ke manusia.

Jenis virus corona yang ada pada kelelawar dianggap menjadi penyebab dari berbagai gangguan saluran pernapasan pada manusia, termasuk penyakit yang sedang marak saat ini yaitu Virus Corona Wuhan atau Covid-19.

Infeksi virus corona tersebut ditularkan kepada manusia, baik tanpa inang perantara maupun melalui inang perantara yaitu musang, unta, trenggiling atau mamalia kecil lainnya.

Hingga saat ini, dari sekitar 40 spesies virus corona, diketahui ada tujuh jenis yang dapat menginfeksi saluran pernapasan manusia (human coronavirus, HCoV).

Dijelaskan oleh Peneliti Mikrobiologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra PhD, data yang ada penyebaran virus corona ini memang masih sedikit.

"Dari data yang tersedia di repository, studi tentang penyebaran coronavirus memang masih sedikit, baru pada inang alaminya, kelelawar," kata Sugiyono kepada Kompas.com, Rabu (19/2/2020).

Sementara itu, di Indonesia sendiri deteksi virus corona ini pernah dilakukan di daerah Gorontalo pada tahun 2012-2013, dengan beragam jenis kelelawar.


Hasil penelitian tersebut, menunjukkan pada kalong atau kelelawar dengan ukuran yang besar, sekitar 25 persen kalong yang diambil sampelnya dinyatakan positif membawa virus corona.

Sedangkan, pada kelelawar buah (fruit bats) sampel yang diambil dan dinyatakan positif membawa virus corona ini ada sekitar 8 persen.

Sampel virus juga pernah dilakukan pada tempat lain dengan jumlah sampel lebih kecil dan dinyatakan negatif.

Selain di Gorontalo, kata dia, potensi transmisi virus yang umum dari kalong juga pernah dilakukan di kawasan hutan Leuweung Sancang, Garut.

Para peneliti menemukan kalong sudah sering masuk ke perumahan penduduk, sehingga meningkatkan frekuensi kontak langsung, terutama dengan manusia dan anjing.

"Nah, tingginya frekuensi kontak langsung juga akan meningkatkan risiko adanya transmisi patogen berbahaya atau virus yang dibawa kelelawar ke manusia maupun hewan domestik lainnya," ujarnya.

Meningkatnya frekuensi kontak langsung dari satwa liar dengan manusia tersebut, juga memperbesar potensi terjadinya infeksi virus corona pada manusia.

Akan tetapi, ditegaskan Sugiyono, di Indonesia, hingga saat ini, infeksi virus corona itu hanya terjadi antara satwa liar, dan tidak menginfeksi manusia.

"Iya, belum karena di Indonesia pun tidak ada kasus outbreak coronavirus (virus corona) dari satwa liar. Potensi ada, karena pemicunya juga banyak," tuturnya.

https://sains.kompas.com/read/2020/02/19/180300823/ada-virus-corona-kelelawar-di-gorontalo-dan-garut-ini-penjelasan-ahli

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.