Salin Artikel

Bongkahan Erupsi Gunung Anak Krakatau Ditemukan di Dasar Lautan

Para ilmuwan menggunakan peralatan sonar untuk mendapatkan gambaran bongkahan-bongkahan batu besar yang meluncur ke lautan ketika satu sisi Anak Krakatau runtuh.

Beberapa bongkahan ini tingginya mencapai 70-90 meter.

Runtuhnya batu-batu ini ke dalam air menghasilkan gelombang tinggi di garis pantai Jawa dan Sumatera pada 22 Desember 2018.

Lebih dari 400 orang di sekitar Selat Sunda meninggal dunia dalam bencana yang terjadi pada malam hari itu, dan ribuan lainnya terluka dan hilang.

Para peneliti telah mencoba merekonstruksi apa yang terjadi sejak peristiwa itu.

Tetapi semua studi mereka hingga saat ini didasarkan pada apa yang dapat dilihat di atas air.

Prof Dave Tappin dan koleganya menyadari mereka harus menyelidiki massa gunung berapi yang hilang di pulau itu, yang sekarang berada di bawah permukaan laut.

Jika tidak, mereka tidak akan pernah benar-benar mendapatkan deskripsi lengkap tentang peristiwa Anak Krakatau itu.

Sebuah echosounder multibeam, atau alat pemancar sonar, dibawa untuk memetakan dasar laut.

"Model awal keruntuhan didasarkan pada citra satelit yang hanya melihat bagian subaerial dari gunung berapi," kata ilmuwan Survei Geologi Inggris itu kepada BBC News.

"Kami melakukan pencitraan pada kedalaman 200 meter dan melihat balok berbentuk segitiga, yang pada dasarnya koheren, dan mereka membentuk- sebelum gunung itu runtuh- sisi barat daya Anak Krakatau."

Puing itu luruh 2.000 meter dari gunung berapi. Survei seismik yang juga dilakukan oleh tim itu menunjukkan bagaimana materi ini berada di atas deposit yang lebih tua.

Yang terpenting, pencitraan bawah air telah memungkinkan tim Prof Tappin untuk merevisi estimasi volume batu yang luruh. Dan itu lebih kecil dari yang diperkirakan sebelumnya.

Sebelumnya, berdasarkan perhitungan di atas air terhadap gunung yang dulunya setinggi 335 meter itu menunjukkan angka 0,27 km kubik.

Pengukuran baru menunjukkan bahwa yang luruh ke laut adalah 0,19 km kubik, hampir 200 juta meter kubik.

Volume yang lebih kecil ini mungkin menimbulkan masalah bagi pemodelan tsunami yang sebelumnya dilakukan.

Simulasi asli mereka tentang bagaimana gelombang yang dihasilkan oleh reruntuhan, yang bergerak melintasi Selat Sunda, telah terbukti cocok dengan apa yang diamati pengukur pasang laut dan dari apa yang diketahui dari kerusakan di sepanjang pantai terdekat.

Sekarang, model tsunami harus dibuat kembali tetapi dengan input yang lebih kecil.

Simulasi masih bekerja, namun - dan dengan alasan yang bagus.

Tim Prof Tappin juga menemukan bahwa tingkat kelongsoran lereng gunung-sudut kemiringan di mana massa batuan meluncur - lebih dangkal daripada asumsi sebelumnya.

Sebelumnya, pernah dianggap bahwa kelongsoran curam menuju ke cekungan, yang terbentuk akibat akibat letusan tahun 1883.

Namun, sekarang jelas bahwa lereng yang runtuh memasuki air jauh lebih dekat permukaan.

"Kami telah memperbaiki pemodelan dengan resolusi yang lebih baik berdasarkan batimetri (pengukuran kedalaman laut) baru dan hasilnya hampir sama, meskipun dengan volume batu yang lebih kecil," jelas pakar tsunami Prof Stephan Grilli dari University of Rhode Island.

"Luncuran yang lebih dangkal terjadi hampir seperti lompatan ski. Keruntuhan yang lebih dekat ke permukaan membuatnya lebih tsunamigenik (berpotensi menghasilkan tsunami) daripada keruntuhan yang lebih curam, yang akan membawa sedimen turun lebih dalam, lebih cepat."

Profesor Tappin dan Grilli berbicara di San Francisco pada Pertemuan Musim Gugur tahunan American Geophysical Union.

Ini adalah kali pertama mereka untuk mempresentasikan temuan mereka kepada komunitas ilmiah yang lebih luas.

Yang juga berbicara pada acara itu adalah Prof Hermann Fritz dari Institut Teknologi Georgia.

Dia meninjau kerusakan di pantai-pantai terdekat, menyimpulkan tinggi gelombang tsunami dari studi di lapangan, dan seberapa cepat air mencapai daratan.

Di pulau-pulau di sekitar Anak Krakatau, pohon hingga 80 meter di atas permukaan laut normal tercabut dari akarnya.

Sebagian besar energi gelombang mengambil jalur dari gunung berapi ke arah kehancuran yang sama - ke barat daya.

Peristiwa itu menghasilkan gelombang setinggi 10m yang menyerang sudut Taman Nasional Ujung Kulon di Pulau Panaitan - berjarak 50 km dari Anak Krakatau.

"Penduduk lokal sangat beruntung bahwa keruntuhan itu terjadi di arah barat daya, ke arah di mana sedikit orang tinggal - menuju taman nasional," kata Prof Fritz.

"Jika arah keruntuhannya berbeda, hasilnya bisa sangat berbeda juga dalam hal ketinggian tsunami di daerah berpenduduk."

Pelajaran dari Anak Krakatau digunakan untuk menilai bahaya di gunung berapi lainnya.

Ada sekitar 40 lokasi lain di seluruh dunia yang berpotensi mengalami hal yang sama dengan yang terjadi di Gunung Anak Krakatau.

https://sains.kompas.com/read/2019/12/17/190400723/bongkahan-erupsi-gunung-anak-krakatau-ditemukan-di-dasar-lautan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.