Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Cuaca Panas Landa Indonesia, Kok Bisa Bikin Lemas dan Ngantuk?

Salah satu tantangan yang dihadapi ketika cuaca panas melanda adalah rasa kantuk dan lemas yang sulit dihindari.

Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa kita justru merasa ngantuk dan lemas ketika cuaca sedang sangat panas?

Menurut Dr. Michele Casey dari Duke Health di Carolina Utara, alasan lemas dan ngantuk saat panas sebenarnya sederhana.

Semua ini karena tubuh sedang bekerja keras menjaga suhu tubuh tetap normal. Tenaga yang digunakan tubuh untuk mendinginkan suhu tubuh inilah yang pada akhirnya membuat kita merasa lemas dan ngantuk.

"Ketika berada di bawah paparan sinar matahari, tubuh harus berkerja keras untuk mempertahankan suhu internal tetap normal dan konsisten," kata Casey dilansir Live Science, (14/8/2017).

Beberapa hal yang dilakukan tubuh untuk menjaga suhu tetap normal di kala cuaca panas adalah melebarkan pembuluh darah.

Proses melebarkan pembuluh darah dikenal sebagai vasodilatasi. Hal ini bertujuan untuk memungkinkan lebih banyak darah mengalir di dekat permukaan kulit.

Hal ini membuat darah yang hangat menjadi dingin dengan cara melepaskan panas saat bergerak di dekat kulit.

Peningkatan aliran darah di dekat kulit inilah yang menjelaskan kenapa kulit kita memerah di saat kepanasan.

Selain vasodilatasi, tubuh juga mengeluarkan keringat lewat kulit.

Menurut Casey, keringat dapat mendinginkan kulit ketika menguap.

Sebagai akibat dari proses pendinginan yang dilakukan tubuh, detak jantung dan laju metabolisme akan meningkat.

"Pekerjaan yang dilakukan tubuh meningkatkan denyut jantung dan laju metabolisme Anda. Pada akhirnya ini membuat Anda merasa lelah atau mengantuk," terang Casey.

Paparan sinar matahari, kelelahan dan dehidrasi

Ketika diserbu cuaca panas dan banyak keringat keluar, kita akan merasa sangat dehidrasi. Casey berkata, salah satu gejala dehidrasi adalah kelelahan.

Selain karena keringat, paparan sinar matahari pada kulit kita juga dapat menyebabkan perubahan pigmen, keriput, dan kulit kering. Hal ini pada akhirnya dapat meningkatkan dehidrasi.

"Perubahan kimia ini sebenarnya menyebabkan kelelahan. Ini karena tubuh tengah bekerja memperbaiki kerusakan di kulit," ujar Casey.

Kulit yang terbakar merusak kemampuan tubuh untuk mengatur suhu. Terlebih lahi, jika Anda terbakar matahari, tubuh mengalihkan cairan daribagian tubuh yang lain ke arah luka bakar dalam upaya menyembuhkan kulit.

"Pengalihan ini berarti Anda memiliki lebih sedikit cairan untuk berkeringat, dan dapat menyebabkan lebih banyak dehidrasi dan kelelahan," kata Casey.

Hal yang harus dilakukan

Menurut Casey, cara terbaik untuk melawan dehidrasi adalah dengan minum air dan camilan yang memiliki rasa asin.

Ada beberapa gejala kelelahan akibat panas yang harus diperhatikan, yakni berkeringat banyak, denyut nadi cepat, mengantuk atau merasa ingin pingsan.

"Jika gejala di atas terjadi, segera pergi ke tempat sejuk dan minum banyak air. Temuilah dokter jika gejalanya tidak membaik dalam waktu satu jam," tegas Casey.

Dia menjelaskan, salah satu ancaman paling fatal dari cuaca panas adalah heat stroke.

Heat stroke merupakan kondisi serius di mana suhu tubuh mencapai 40 derajat Celsius atau lebih.

Orang yang mengalami heat stroke memerlukan perawatan darurat karean dapat menyebabkan kerusakan pada otak, jantung, ginjal, dan otot.

Gejala heat stroke antara lain suhu tubuh sangat tinggi, mual, muntah, sakit kepala, perubahan perilaku seperti bingung dan lekas marah.

Gejala lain yang mungkin bisa muncul adalah bicara cadel, kejang, jingga koma.

"Saat cuaca panas, penting untuk tetap terhidrasi," tutup Casey.

https://sains.kompas.com/read/2019/10/28/160100223/cuaca-panas-landa-indonesia-kok-bisa-bikin-lemas-dan-ngantuk-

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke