Salin Artikel

3 Spesimen Pilihan Kompas.com di Museum Koleksi Zoologi Bogor

KOMPAS.com- Museum zoologi memiliki daya tarik tersendiri bagi para pencinta satwa. Namun, tidak jarang karena terlalu banyaknya spesimen yang ada, pengunjung awam menjadi bingung harus melihat yang mana.

Museum Zoologi Bogor dibagi atas dua lokasi, yaitu museum pameran untuk pengunjung secara umum dan museum koleksi yang hanya bisa dilihat oleh pengunjung tertentu, seperti anak sekolah dan mahasiswa.

Berikut adalah tiga spesimen menarik pilihan Kompas.com di museum koleksi Zoologi Bogor, LIPI:

1. Katak Pinokio

Pinokio identik dengan hidungnya yang panjang. Ternyata di Gunung Foja, Papua, terdapat jenis katak yang memiliki hidung panjang sehingga diberi nama latin Litoria pinocchio.

Katak pinokio merupakan jenis katak pohon yang bertubuh kecil dengan panjang katak dewasa sekitar 3 sentimeter. Habitat katak ini di dataran tinggi. Ciri fisik katak ini selain memiliki hidung yang panjang, juga terdapat cakram di ujung jemarinya. Itu berguna ketika katak tersebut memanjat pohon.

Spesimen katak pinokio yang ada di MZB dijadikan acuan penelitian di LIPI karena ini merupakan penemuan pertama dan terbaru dari spesies katak pinokio.

2. Ikan Raja Laut

Ikan Raja Laut menjadi satu-satunya spesies ikan zaman purba yang masih hidup hingga sekarang. Bahkan, ikan ini dinyatakan telah ada sebelum dinosaurus ada.

Pada awalnya, ikan tersebut dikira satu jenis dengan ikan Coelantach komoro (Latimeria chalumnae) yang ada di Madagaskar karena corak hitam dan putih yang terdapat sisik ikan tersebut, tetapi ternyata ini spesies berbeda.

Ikan dengan nama latin Latimeria menadoensis ini ditemukan dan diambil dari perairan Pulau Manado Tua. Tercatat dalam museum koleksi Zoologi Bogor, LIPI, spesimen berbobot 29 kilogram dan panjang 124 sentimeter tersebut sudah ada sejak Juli 1998.

Ikan Raja Laut ini tinggal di kedalaman 200 meter di dalam gua laut dan populasinya hanya berkisar 200 ekor saja yang masih hidup dilautan.

3. Burung Iriana-widodo

Burung dengan nama latin Myzomela irianawidodoae ini merupakan burung endemik Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Spesimen yang disimpan di MZB memiliki anjang tubuh 11,8 cm, dan bobotnya 32,23 gram serta panjang paruhnya 1,79 cm.

Ciri burung yang mengambil nama ibu negara (Iriana Widodo) ini berparuh warna hitam, mata berwarna coklat gelap, kaki dan jarinya berwana hitam dengan bantalan warna kuning, dan kicauannya yang khas.

https://sains.kompas.com/read/2019/08/28/180700123/3-spesimen-pilihan-kompas.com-di-museum-koleksi-zoologi-bogor

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Oh Begitu
Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Oh Begitu
Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Fenomena
Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Fenomena
Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Fenomena
Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Getaran Gempa Banten di Jakarta Terdeteksi sampai Gedung Lantai 12, Ini Analisis BMKG

Oh Begitu
Studi CDC Ungkap Vaksin Booster Dibutuhkan untuk Melawan Omicron

Studi CDC Ungkap Vaksin Booster Dibutuhkan untuk Melawan Omicron

Oh Begitu
Pfizer-BioNTech Luncurkan Uji Coba Vaksin Khusus Omicron

Pfizer-BioNTech Luncurkan Uji Coba Vaksin Khusus Omicron

Oh Begitu
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.