Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

5 Foto yang Bikin Merinding kalau Punya Trypophobia dan Penjelasannya

KOMPAS.com – Di antara semua jenis fobia di internet, trypophobia mungkin adalah salah satu yang ramai dibicarakan, meskipun kondisi ini sebetulnya juga bukan fobia.

Istilah ini pertama kali diciptakan di internet pada 2005 dan menjadi populer ketika seorang siswa di SUNY-Albany membuat sebuah laman Facebook bernama trypophobia pada 2009.

Akan tetapi, trypophobia bukan fobia resmi yang diakui secara resmi oleh American Psychiatric Association.

Para pakar kesehatan mental juga masih mendebatkan apakah trypophobia benar-benar fobia atau sekadar perilaku yang tidak umum, meskipun ada banyak netizen yang mengklaim bahwa gambar-gambar pemicu trypophobia bisa membuat mereka merinding sampai mual dan muntah.

Menurut psikolog dan penulis buku The Shrinkology Solution, Dr Meg Arroll yang diwawancarai oleh Get the Gloss, 31 Januari 2019; gejala yang paling umum dari trypophobia adalah rasa jijik dan mual.

Selain itu, penderita trypophobia bisa mengalami peningkatan detak jantung, keringat dingin, panik, merinding hingga serangan panik jika melihat gambar pemicunya.

Gambar pemicu ini tidak hanya meliputi lubang saja, tetapi juga pola-pola asimetris yang terkumpul secara tidak beraturan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari, seperti punggung kodok suriname, buah teratai, sarang madu, busa sabun, lensa pada ponsel dan bahkan, gelembung pada kopi.

Ya, Anda tidak salah baca. Penderita trypophobia bisa terpicu oleh penampakan gelembung di dalam cangkir kopi mereka, seperti yang ditampilkan di atas.

Namun, ketakutan akan lubang ini sebetulnya bukan tanpa alasan.

Menurut para pakar, seperti psikolog dari University of Essex Arnold Wilkins, trypophobia bersifat adaptif evolusioner.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Psychological Science pada 2013, Wilkins dan koleganya Geoff menemukan bahwa motif-motif yang dapat memicu trypophobia juga ada pada beberapa hewan paling beracun di dunia, seperti ikan buntal, katak beracun, dan siput Conus marmoreus.

Temuan ini membuat Wilkins dan Geoff berpendapat bahwa tendensi trypophobia merupakan bentuk penghindaran adaptif evolusioner terhadap hewan beracun.

Di sisi lain, ada studi yang menemukan bahwa trypophobia sebetulnya bukan rasa takut, tetapi jijik, seperti respons kita terhadap penyakit menular.

Sekelompok peneliti dari Emory University menemukan hal ini setelah mempelajari respons pupil mata ketika melihat gambar hewan berbahaya dan gambar pemicu trypophobia. Mereka menemukan bahwa pupil mata membesar ketika melihat hewan berbahaya sebagai respons takut, dan mengecil ketika melihat gambar pemicu trypophobia sebagai respons jijik.

Respons jijik yang ditunjukkan oleh mata ini juga dibarengi oleh pengaktifan sistem parasimpatetik lainnya, seperti perlambatan detak jantung dan pernapasan.

Dengan berbagai pendapat yang bertabrakan ini, sulit untuk menentukan bagaimana penanganan trypophobia yang tepat. Dr Arroll berkata bahwa masih dibutuhkan lebih banyak penelitian penanganan trypophobia yang berkualitas.

Namun, penderita trypophobia juga bisa mengeksplorasi metode-metode yang biasa digunakan untuk menangani fobia lainnya.

“Desensitisasi sistematis bisa menjadi pendekatan yang masuk akal – (dengan) perlahan-lahan menunjukkan foto-foto yang memicu reaksi (trypophobia), respons ketakutan akan berkurang seiring berjalannya waktu,” kata Dr Arroll yang juga menyarankan terapi perilaku kognitif untuk mengurangi pikiran buruk mengenai pola-pola trypophobia.

Untuk melakukan desensitisasi, Dr Arroll menyarankan untuk memulainya dari gambar yang paling tidak memicu, seperti stroberi, dan perlahan-lahan meningkatkannya ke gambar-gambar yang paling membuat stres.

Namun jika gejala trypophobia Anda begitu parah (hingga menyebabkan muntah dan menganggu kehidupan sehari-hari), jangan mencoba untuk menanganinya sendiri dan mintalah pertolongan medis.

https://sains.kompas.com/read/2019/06/25/180700123/5-foto-yang-bikin-merinding-kalau-punya-trypophobia-dan-penjelasannya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke