Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

5 Mitos Soal Kolesterol yang Bikin Salah Paham, Jangan Keliru Lagi

Tingginya kadar kolesterol dalam darah dapat memicu berbagai penyakit kardiovaskuler, seperti hipertensi, stroke, bahkan serangan jantung.

Sayangnya, masih banyak kesalahpahaman yang beredar di masyarakat terkait kolesterol.

Kali ini kita akan membahas beberapa kesalahpahaman tersebut sehingga diharapkan dapat menyediakan informasi yang akurat dan kredibel terkait kolesterol.

Kolesterol bukan ancaman bagi anak-anak

Ini merupakah anggapan yang keliru. Risiko kolesterol dapat mengancam anak-anak, terutama yang memiliki faktor genetik dan riwayat penyakit kardiovaskuler pada keluarganya.

Kondisi ini dikenal dengan istilah familial hypercholesterolemia. Bila tidak teridentifikasi dan ditangani dengan cepat, maka kondisi ini dapat mengancam kesehatan sang anak daam jangka panjang.

Riwayat penyakit dalam keluarga yang perlu dikenali antara lain adalah artherosklerosis dan gangguan pada dinding pembuluh darah, riwayat serangan jantung dan hipertensi, serta penyakit jantung koroner.

Meski berisiko tinggi, namun bukan berarti anak dengan kondisi ini pasti memiliki kolesterol tinggi. Terdapat beberapa bentuk pencegahan yang dapat dilakukan, seperti melakukan olahraga rutin, menghindari kebiasaan merokok, menjaga pola makan dan berat badan ideal, serta diagnosis tekanan darah berkala dan melakukan medical check up.

Pemeriksaan kolesterol lebih baik dilakukan saat paruh baya

Banyak orang beranggapan bahwa kolesterol tinggi hanya terjadi seiring bertambahnya usia, sehingga anak muda tidak perlu khawatir dan bebas mengonsumsi apa saja yang mereka inginkan.

Faktanya, kolesterol tinggi dapat terjadi pada siapapun tanpa memandang usia. The American Heart Association merekomendasikan setiap orang dewasa berumur lebih dari 20 tahun hendaknya memeriksakan kadar kolesterol dan faktor risiko lain, misalnya gula darah, setidaknya setiap empat tahun sekali.

Pemeriksaan rutin ini mampu mencegah timbulnya berbagai penyakit di kemudian hari.

Kolesterol hanya menyerang orang gemuk saja

Orang yang menderita obesitas memang memiliki risiko kolesterol lebih tinggi, namun bukan berarti orang yang kurus bebas dari ancaman ini.

Kolesterol tidak memandang berat badan, sehingga berat badan tidak mencerminkan kadar kolesterol dalam pembuluh darah.

Orang yang tampak kurus boleh jadi memiliki proporsi lemak tubuh yang melebihi massa otot mereka, atau kondisi yang disebut skinny fat.

Orang yang kurus juga seringkali tidak memiliki kebiasaan yang baik, misalnya olahraga rutin atau pola makan teratur. Hal ini menjadikan mereka rentan terhadap ancaman kolesterol tanpa mereka sadari.

Kadar kolesterol hanya bergantung pada makanan dan olahraga

Meski memang aktivitas fisik dan pola makan dapat menentukan kadar kolesterol, namun kolesterol juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain.

Berat badan yang berlebih atau obesitas dapat meningkatkan risiko kolesterol tinggi, begitu pula dengan usia seseorang. Namun bukan berarti orang yang kurus dan masih segar bugar bebas dari ancaman ini.

Selain itu, faktor genetis dan keturunan juga dapat menjadi masalah yang tidak terduga.

Makanan tanpa kandungan kolesterol aman dikonsumsi

Faktanya, kolesterol tinggi dalam darah justru dihasilkan oleh tubuh itu sendiri. Kolesterol dalam tubuh dapat diproduksi lewat asupan lemak jenuh atau lemak trans yang banyak.

Untuk itu, agar terhindar dari ancaman kolesterol tinggi, sebaiknya hindari konsumsi dalam jumlah tinggi makanan dengan kadar lemak jenuh berlebih, seperti minyak, gorengan, margarin, mentega, kue kering, dan sebagainya.

https://sains.kompas.com/read/2019/06/22/190300523/5-mitos-soal-kolesterol-yang-bikin-salah-paham-jangan-keliru-lagi

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke