Salin Artikel

Rancang Beras Berprotein Hewani, Pelajar Indonesia Catatkan Prestasi

KOMPAS.com – Saat ini, tingkat konsumsi daging masyarakat Indonesia termasuk dalam tingkat terendah di dunia. Dalam kurun waktu satu tahun, masyarakat Indonesia hanya mengonsumsi sekitar lima kilogram daging saja.

Meski beberapa tahun belakangan konsumsi daging semakin meningkat, terutama daging ayam, namun hal ini masih jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan negara lainnya.

Hal ini ditenggarai merupakan akibat dari keterbatasan pendapatan per kapita, terutama bagi kalangan yang kurang mampu.

Dilatarbelakangi oleh hal tersebut, Michaela Samanta, siswi SMAK Penabur Gading Serpong melakukan penelitian untuk mengembangkan teknologi rekayasa genetika yang mampu menghasilkan beras dengan7 protein hewani.

“Tidak semua orang memiliki akses terhadap makanan yang tinggi protein, karena faktor geografis, kondisi ekonomi, alergi, atau gaya hidup. Oleh karena itu, saya ingin menghasilkan suatu makanan tinggi protein dari makanan sehari-hari yang murah dan gampang didapat,” papar Michaela saat dihubungi oleh Kompas.com, Senin (20/5/2019).

Michaela menjelaskan bahwa beras dipilih karena telah dikonsumsi secara umum oleh mayoritas populasi dunia sebagai makanan pokok. Selain itu, database terkait informasi genetiknya sangat lengkap dan mudah diakses karena sudah diteliti secara menyeluruh sebelumnya.

Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengatasi masalah kekurangan nutrisi serta meningkatkan kesetaraan pangan bagi seluruh kalangan masyarakat.

Metode yang digunakan

Secara sederhana, penelitian ini dilakukan dengan cara memasukkan gen asing yang dapat menghasilkan protein hewani, carnosine, pada tanaman padi, sehingga beras yang dihasilkan dapat mengandung carnosine tersebut.

Adapun gen yang diinsersi adalah gen yang terlibat dalam biosintesis carnosine pada hewan, antara lain B-alanine pyruvate transaminase gene, c-gene, dan carnosine synthase gene.

Hal ini dilakukan lewat serangkaian proses, mulai dari isolasi gen, pembuatan vektor dan kloning, dilanjutkan dengan transformasi tanaman menggunakan Agrobacterium sehingga dapat menghasilkan tanaman padi transgenik yang dapat memproduksi beras dengan kandungan carnosine.

Saat ini, proyek ini berfokus pada analisis komputasional dan konstruksi metode yang diperlukan untuk mengembangkan tanaman transgenik tersebut, seperti konstruksi primer dan plasmid, analisis promoter, analisis bias kodon, serta pemodelan dan simulasi digital.

Hal ini bertujuan untuk dapat menciptakan konstruksi yang efisien dan efektif, sehingga nantinya beras dapat mengandung carnosine dalam jumlah tinggi tanpa mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman itu sendiri.

Penghargaan dan harapan penelitian lanjutan

Lewat penelitian ini, Michaela berhasil mendapatkan Second Award Patent and Treadmark Office Society dengan judul karya ilmiah, C-Rice: Computational and Experimental Design Development of Transgenic Rice di ajang Intel International Science and Engineering Fair (ISEF) 2019 yang diselenggarakan di Phoenix, Arizona.

Lewat penghargaan ini, Michaela berharap agar pencapaiannya dapat memberikan ide dan semangat bagi para peneliti muda lainnya untuk dapat berkarya.

“Banyak masalah yang bisa dilihat di kehidupan sehari-hari yang bisa diatasi melalui solusi pemikiran-pemikiran kreatif anak Indonesia,” tuturnya.

Sementara itu, penelitian ini juga akan dikembangkan untuk meningkatkan efisiensinya sebelum direalisasikan lebih lanjut.

“Untuk sementara, penelitian ini akan saya improve lebih lanjut di bidang metode dan cost supression. Saya berharap beras ini dapat terealisasikan dan membantu orang banyak,” tutupnya.  

https://sains.kompas.com/read/2019/05/23/180600923/rancang-beras-berprotein-hewani-pelajar-indonesia-catatkan-prestasi

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Ketahui, Begini Komposisi Pangan Seimbang untuk Mencegah Stunting

Oh Begitu
Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Fenomena
Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Oh Begitu
Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Oh Begitu
Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Oh Begitu
Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Fenomena
Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Fenomena
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.