Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Hari Lebah Sedunia, Serangga Kecil Penopang Ketahanan Pangan Dunia

Lebah merupakan salah satu penyerbuk alami yang membantu aneka tanaman bereproduksi. Mereka mengambil serbuk sari bunga, menyebarkannya, dan membiarkan tanaman termasuk tumbuhan pangan berkembang biak.

Burung, kelelawar, tikus, monyet, dan manusia juga membantu penyerbukan. Namun penyerbuk paling umum adalah serangga, salah satunya lebah.

Dengan melakukan penyerbukan, lebah berkontribusi besar dalam ketahanan pangan umat manusia.

Bagaimanapun, hampir tiga perempat tanaman pangan yang menghasilkan 90 persen pangan dunia membutuhkan bantuan eksternal.

Menurut para pakar lebah dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), sepertiga dari produksi pangan dunia bergantung pada lebah.

Merujuk laman resmi United Nations Environment Programme (UNEP), organisasi utama PBB di bidang lingkungan hidup, lebah terkenal karena perannya dalam menyediakan makanan berkualitas tinggi seperti madu, royal jelly, dan serbuk sari juga produk lain seperti lilin lebah, propolis, dan racun lebah madu.

Selain penyumbang makanan dan produk berkualitas tinggi, lebah juga merupakan bagian dari keanekaragaman hayati di mana hal itu penting untung kelangsungan hidup.

"Di semua agama utama dunia, lebah berperan penting untuk kehidupan manusia selama ribuan tahun," ujar laporan Mei 2019 oleh Intergovernmental Science-Policy Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES), melansir www.unenvironment.org, Senin (20/5/2019).

PBB mencatat, para peternak lebah menjadi sumber ekonomi penting bagi banyak mata pencaharian di pedesaan.

"Lebah madu barat adalah penyerbuk yang dikelola paling luas di dunia. Secara global setidaknya ada sekitar 81 juta sarang lebah yang memproduksi sekitar 1,6 juta ton madu setiap tahunnya," tulis laporan tersebut.

Ancaman polusi udara dan pestisida

Lebah dan penyerbuk lain seperti kupu-kupu, kelelawar, dan kolibri terancam punah karena aktivitas manusia.

Platform Kebijakan-Ilmu Antarpemerintah tentang Keanekaragaman Hayati dan Layanan Ekosistem melaporkan bahwa perubahan penggunaan lahan, manajemen pertanian intensif, penggunaan pestisida, polusi udara, dan perubahan iklim merupakan ancaman utama yang dihadapi satwa penyerbuk.

Pada Mei 2018, Uni Eropa melarang penggunaan tiga insektisida yang dikenal sebagai neonicotinoid untuk mengurangi ancaman mematikan pada lebah dan satwa penyerbuk lain.

Polusi udara juga dianggap sangat mempengaruhi lebah. Penelitian sebelumnya menemukan, polutan udara berinteraksi dengan molekul aroma yang dilepaskan tanaman, sesuatu yang dibutuhkan lebah untuk mencari makanan.

Sinyal yang sudah bercampur itu mengganggu kemampuan lebah dalam mencari makan, membuat lebah jadi lamban dan kurang efektif saat melakukan penyerbukan.

Tentang hari lebah sedunia

Hari lebah sedunia diumumkan oleh Sidang Majelis Umum PBB pada Desember 2017, sekitar tiga tahun setelah gagasan itu pertama kali dilontarkan di Slovenia.

Mengutip portal berita Antara, tanggal 20 Mei dipilih sebagai Hari Leba Dunia karena tanggal ini merupakan hari kelahiran pelopor pemelihara lebah Abad 18, Anton Janza.

Hari Lebah Dunia diharapkan dapat menyoroti fakta bahwa dunia tidak bisa terus memusatkan perhatian pada peningkatan produksi dan produktifitas berdasarkan penggunaan pestisida dan bahan kimia yang mengancam hewan penyerbuk.

https://sains.kompas.com/read/2019/05/20/190200923/hari-lebah-sedunia-serangga-kecil-penopang-ketahanan-pangan-dunia

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke