Hasil analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan informasi awal gempa berkekuatan M 5,8 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M 5,4.
Episenter gempabumi terletak pada koordinat 8,47 Lintang Selatan (LS) dan 116,55 Bujur Timur (BT), atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 20 kilometer arah utara Kota Selong, Kabupaten Lombok Timur, Propinsi Nusa Tenggara Barat pada kedalaman 19 km.
Dua menit kemudian pada pukul 14.09.19 WIB terjadi gempabumi susulan dengan M 5,1 pada titik koordinat 8,51 Lintang Selatan (LS) dan 116,49 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 10 kilometer.
Apa bedanya gempa kali ini dengan yang terjadi di Lombok Juli lalu? Apakah sama mematikannya?
Menjawab pertanyaan itu, Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono mengatakan, sesar pembangkit gempa tidak sama dengan yang terjadi Juli lalu.
"Sesar pembangkit gempa lombok Juli-Agustus lalu adalah sesar naik flores, mekanismenya naik atau thrust fault. Sedangkan yang ini gempa dengan mekanisme sesar turun (normal fault)," ucap Daryono dihubungi Kompas.com, Minggu (17/3/2019).
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, tampak bahwa gempa Lombok hari ini termasuk dalam klasifikasi gempa dangkal akibat aktivitas sesar lokal di sekitar Gunung Rinjani.
"Saya tidak mengatakan bahwa sesar ini belum teridentifikasi. Tapi yang jelas ini gempa dari sumber berbeda, yakni sesar darat dari kaki gunung Rinjani," imbuh Daryono.
Guncangan gempa ini dilaporkan dirasakan di daerah Lombok Utara IV MMI, Lombok Timur, Lombok Barat, Lombok Tengah, Mataram, dan Sumbawa III-IV MMI; Karangasem III-IV MMI, Denpasar III MMI, dan Kuta III MMI.
Hasil pemodelan pun menunjukkan bahwa gempa tidak berpotensi tsunami.
Pantauan BMKG hingga pukul 17.00 WIB menunjukkan ada 13 aktivitas gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan kecil.
Apakah mungkin dampaknya sama seperti gempa Lombok Juli lalu?
"Karena informasi sumber gempa yang masih terbatas dan belum banyak diketahui, maka saya mengibau agar warga masyarakat Lombok tetap waspada. Masih sulit untuk menjawab apakah (gempa) ini akan berlanjut atau tidak," ungkapnya.
Daryono menegaskan, jika dibanding dengan gempa Lombok pada bulan Juli yang dipicu sesar naik Flores, maka potensi gempanya jauh lebih besar yang terjadi saat itu.
"Karena Flores back arc thrust itu sesar regional yang jalur sesarnya panjang. Sementara (gempa) ini local fault (sesar lokal) dan jalurnya pendek," ungkapnya.
Kepada masyarakat diimbau agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Dampak bencana hingga pukul 15.07 WITA
1. Telah terjadi longsor akibat adanya gempa di Kawasan Air Terjun Tiu Kelep Senaru Bayan Kabupaten Lombok Utara.
2. Terdapat kurang lebih 40 orng wisatawan terkena longsoran di sekitar kejadian. Korban dominan berasal dari wisatawan Malaysia dan domestik.
3. Sementara itu, pihak BPBD dan Dikes Pemda KLU telah menerjunkan empat ambulans ke lokasi kejadian bersama personil dan paramedis. Baru bisa dievakuasi 5 orang, 2 orang meninggal dunia dan sejumlah lainnya luka-luka, 1 orang dirawat di Puskesmas Bayan.
https://sains.kompas.com/read/2019/03/17/171515423/gempa-m-54-guncang-lombok-timur-apa-bedanya-dengan-lindu-juli-lalu