Salin Artikel

Ini Salah Manusia, Makhluk Laut Terdalam Bumi Pun Memakan Plastik

KOMPAS.com – Adakah suatu daerah di Bumi ini yang belum tercemar plastik? Bahkan di laut terdalam bumi pun, dampak dari sampah kita masih dapat dirasakan.

Untuk kali pertama dalam sejarah, para peneliti menemukan plastik di perut makhluk-makhluk yang berada di enam lautan terdalam bumi.

Dipaparkan dalam penelitian yang baru dipublikasikan di jurnal Royal Society Open Science, sekelompok tim peneliti dari Newcastle University di Inggris mengirimkan robot ke enam palung hadopelagik: Jepang, Izu-Bonin, Peru-Cile, New Hebrides, Kermadec dan Kedalaman Challenger Mariana.

Robot ini dikirim tidak hanya untuk memonitor kondisi bawah laut, tetapi juga mengambil sampel kehidupan yang berada di sana. Secara total, para peneliti berhasil mengumpulkan 90 amphipoda, sejenis makhluk lautan kecil.

Para peneliti kemudian mencoba untuk mencari keberadaan plastik di saluran pencernaan mereka, tepatnya di bagian akhir pencernaan agar tidak tercampur dengan plastik yang tertelan ketika diangkat dari laut terdalam.

Hasilnya sangat menyedihkan. Plastik ditemukan dalam pencernaan 72 persen ampipoda.

Lalu, semakin dalam di lautan mereka berada, semakin banyak plastik yang mereka telan. Dari Palung New Hebrides, misalnya. Plastik “hanya” ditemukan pada 50 persen ampipoda. Namun, semua ampipoda yang hidup di Kedalaman Challenger (sekitar 10.890 meter) ditemukan telah memakan plastik.

Para peneliti menduga bahwa hal ini terjadi karena sifat dari palung itu sendiri. Peneliti kelautan Alan Jamieson dari Newscastle University pernah berkata pada 2017, ketika dia pertama kali mengungkapkan hasil penelitiannya, bahwa akhir perjalanan dari sampah plastik adalah laut dalam.

“Jika Anda mengontaminasi sungai, sampahnya bisa dialirkan hingga bersih. Jika Anda mengontaminasi pesisir, sampahnya bisa disingkirkan oleh ombak. Tapi di laut terdalam, sampah diam saja. (Laut terdalam) tidak bisa membersihkan dirinya, dan tidak ada hewan yang keluar atau masuk ke palung-palung ini,” ujarnya.

Jamieson pun berkata bahwa studi yang dilakukannya telah membuktikan bahwa mikrofiber buatan manusia sedang berakumulasi di ekosistem yang belum kita pahami dengan baik.

“Pengamatan ini adalah rekor terdalam adanya mikroplastik yang dimakan, (ini) menunjukkan bahwa kemungkinan besar tidak ada lagi ekosistem kelautan yang belum terdampak oleh sampah antropogenik,” katanya.

https://sains.kompas.com/read/2019/03/01/190700823/ini-salah-manusia-makhluk-laut-terdalam-bumi-pun-memakan-plastik

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Pengujian Perangkat Lunak Sukses, Misi Artemis 1 NASA Semakin Dekat dengan Bulan

Fenomena
Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Peneliti PRBM Eijkman Sebut Riset Vaksin Merah Putih Masih Berjalan untuk Segera Diproduksi

Oh Begitu
Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Gejala Omicron pada Anak yang Perlu Anda Waspadai

Kita
Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Hujan Es Melanda Bogor dan Tasikmalaya, Begini Proses hingga Dampaknya

Oh Begitu
Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Belajar dari Kakek Tewas akibat Diteriaki Maling, Dibutuhkan 2 Hal Ini untuk Mencegah Perilaku Main Hakim Sendiri

Kita
Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Hujan Es di Bogor dan Tasikmalaya, BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem hingga Besok

Fenomena
Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Booster 89 Persen Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron, Ini Penjelasan Ahli

Oh Begitu
Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Resistensi Antimikroba Penyebab Utama Kematian Global Tahun 2019, Studi Jelaskan

Kita
BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

BMKG: Peringatan Dini Gelombang Sangat Tinggi Bisa Capai 6 Meter

Fenomena
Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Kabar Baik, Studi CDC Ungkap Vaksin Covid-19 Ampuh Cegah Rawat Inap akibat Omicron

Oh Begitu
Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Misteri Temuan Mumi Hamil, Bagaimana Janinnya Bisa Ikut Terawetkan?

Oh Begitu
Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Ilmuwan Berencana Hidupkan Mammoth Enam Tahun Lagi, Mungkinkah Terjadi?

Oh Begitu
Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Teleskop Luar Angkasa James Webb Berhasil Mengorbit Dekat Matahari

Fenomena
Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Dahsyatnya Letusan Gunung Bawah Laut Tonga Sebabkan Atmosfer Bumi Bergetar

Fenomena
Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Cegah Kebakaran Hutan, Peneliti UGM Bikin Pesawat Tanpa Awak untuk Deteksi Dini Api

Fenomena
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.