Salin Artikel

Kilas Balik 2018: 5 Bencana Alam Paling Mematikan di Indonesia

Meski begitu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap jumlah korban meninggal dunia dan yang hilang melonjak hingga 1.072 persen.

Berdasar data BNPB, bencana pada 2017 menelan korban jiwa 378 orang. Sedangkan pada 2018, jumlah korban meninggal dan hilang mencapai 4.231 orang.

Selain itu, jumlah korban luka-luka, mengungsi, rumah rusak akibat bencana juga meningkat pada 2018.

Dilansir data BNPB, pada 2018 terdapat 6.948 korban luka-luka, 9.956.410 korban mengungsi, dan 341.226 unit rumah rusak berat. Jika dibanding 2017 yang sebanyak 997 korban luka-luka, 3.612.630 korban mengungsi, dan 9.327 unit rumah rusak berat akibat bencana.

Berikut ini kami rangkum lima bencana paling mematikan dan merugikan sepanjang tahun:

1. Januari, gempa berkekuatan 6,1 guncang Banten dan sekitarnya

Pada 23 Januari 2018, gempa berkekuatan 6,1 magnitudo yang berpusat 81 kilometer sebelah Barat Daya, Kabupaten Lebak, Banten dengan kedalam 10 kilometer telah merusak lebih dari 8.500 bangunan. Getaran gempa saat itu dirasakan sampai Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah.

Daryono, Kepala Bidang Indormasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG mengatakan bahwa gempa bumi saat itu masuk dalam klasifikasi gempa bumi berkedalaman dangkal, akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempang Eurasia.

Diberitakan Kompas.com, gempa Banten di akhir Januari 2018 memiliki dampak kerusakan besar. Lebih dari 2.760 bangunan rusak akibat gempa, termasuk rumah, rumah ibadah, sekolah, gedung pemerintahan, rumah sakit, dan 63 unit fasilitas umum lainnya.

Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Lebak adalah daerah yang paling banyak terdapat kerusakan bangunan rumah karena posisinya berdekatan dengan pusat gempa.

2. Longsor Brebes

Pencarian hingga 4 Maret 2018, jumlah korban longsor yang meninggal ada 14 orang, korban hilang 15 orang, dan korban luka 14 orang.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sudah ada tanda-tanda akan terjadi longsor sebelumnya.

Ia menyebut, dua pekan sebelumnya turun hujan deras di kawasan tersebut dan adanya rembesan mata air dari lereng perbukitan di Gununglio yang notabene adalah asal muasal longsor terjadi.

Kurang lebih, luas longsor mencapai 16,8 hektar, dengan panjang longsoran dari mahkota longsor sampai titik terakhir sekitar 1 kilometer.

"Lebar longsor di atas yang mahkota longsor 120 meter, sementara lebar bagian bawah 240 meter dengan ketebalan 5-20 meter perkiraan 1,5 juta meter kubik," kata dia.

3. Gempa Lombok

Gempa terjadi pukul 18.46 WIB dan pusatnya ada di 8,37 LS dan 116,48 BT, tepatnya 18 kilometer barat laut Lombok Timur, NTB, dengan kedalaman 15 kilometer.

Dalam peristiwa ini tercatat ada 564 orang yang meninggal dunia, 42.239 rumah, dan 458 sekolah rusak.

Sutopo mengatakan, korban meninggal dunia paling banyak berasal dari Kabupaten Lombok Utara, yakni 467 orang.

"Jumlah korban jiwa meninggal dunia sebanyak 564 orang dengan rincian, yaitu Kabupaten Lombok Utara sebanyak 467 orang, Kabupaten Lombok Barat sebanyak 44 orang, dan Kabupaten Lombok Timur sebanyak 31 orang," ujar Sutopo, melalui siaran pers, Senin (1/9/2018).

Selain itu, sebanyak  2 korban berada di Kabupaten Lombok Tengah, 9 korban berada di Kota Mataram, 6 orang di Kabupaten Sumbawa, dan 5 korban di Kabupaten Sumbawa Barat.

Sutopo juga menyebutkan ada 1.584 korban luka-luka yang tersebar di beberapa tempat.

Daerah dengan korban luka-luka terbanyak berada di Lombok Utara dengan jumlah 829 orang.

Sementara, Lombok Barat sebanyak 399 orang dan Lombok Timur sebanyak 122 orang. Kemudian, korban luka-luka di Sumbawa Barat berjumlah 115 orang.

4. Gempa Donggala dan Tsunami Palu

Tiga jam kemudian, gempa susulan dengan kekuatan 7,4, 10 kilometer di jalur sesar Palu Koro kembali mengguncang wilayah tersebut.

Tak berselang lama, tsunami dengan ketinggian enam meter menyapu Palu sekitar pukul 17.22 WIB.

Korban meeninggal akibat gempa bumi dan tsunami yang melanda Kota Palu, Kabupaten Donggala, Sigi dan Parigi Sulawesi Tengah tercatat mencapai 2.073 orang.

"Korban meninggal terdiri dari Kota Palu 1.663 orang, Donggala 171 orang, Sigi 223 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu, Sulbar," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di BNPB, Sutopo.

Bagi para ahli, fenomena seperti di Palu sangat jarang terjadi. Tak heran, banyak ahli berbondong-bondong ingin mendatangi Palu langsung untuk mengetahui apa yang terjadi. Belum lama ini terungkap masalahnya ada di bawah laut.

5. Angin puting beliung Bogor

Angin puting beliung umumnya terjadi di masa pancaroba.

https://sains.kompas.com/read/2018/12/20/200000923/kilas-balik-2018--5-bencana-alam-paling-mematikan-di-indonesia

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.