Salin Artikel

Terjebak di Batu Ambar 99 Juta Tahun, Kumbang Ini Ungkap Kisah Prasejarah

Salah satu tanaman yang dibantu penyerbukannya oleh kumbang adalah tanaman sikas. Tanaman yang seperti campuran antara palem dan pakis ini sudah tumbuh sejak 240 juta tahun lalu atau sejak Bumi dihuni dinosaurus.

Sikas sebenarnya lebih erat hubungannya dengan pinus. Tumbuhan yang dipercaya sudah tumbuh sebelum tanaman bunga itu memiliki batang tebal, berbentuk kerucut seperti nanas, dan memiliki daun berbulu.

Saat mempelajari sikas modern di laboratorium, ahli sebenarnya sudah tahu bahwa di masa lalu tumbuhan ini dibantu penyerbukannya oleh kumbang. Kini, ahli paleontologi benar-benar membutikannya dengan temuan kumbang yang terjebak dalam batu ambar.

Dalam laporan di jurnal Current Biology, Kamis (16/8/2018), ahli mengungkap kumbang yang ditemukan di Myanmar itu berusia 99 juta tahun. Selain tubuh yang masih lengkap, di dalamnya juga ada serbuk sari yang ikut terawetkan.

"Saat kami menemukan bukti nyata antara hubungan keduanya di masa lalu, ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan," ujar Chenyang Cai rekan peneliti dari Universitas Bristol, Inggris, dilansir New York Times, Kamis (16/8/2018).

Kumbang yang terjebak di batu ambar berukuran sekitar dua milimiter, dan dikenal sebagai kumbang boganiid.

Kumbang ini mempunyai rongga kecil penuh dengan rambut di bawah tulang mandibula atau rahang bawah, yang berfungsi seperti kantong untuk mengumpulkan serbuk sari.

Kantong rahang itu diketahui setelah Cai berhasil mengeluarkan fosil dari batu ambar dan menempatkannya di bawah mikroskop dengan pembesaran 400 kali.

Hal yang paling mengejutkan adalah, ia melihat lusinan serbuk sari di samping kumbang.

"Saya sangat gembira saat melihatnya dan langsung penasaran serbuk sari (tanaman) apa ini. Serbuk sari itu bukan di tubuh kumbang, tetapi sangat dekat dengan mulut kumbang dan di sampingnya," ujarnya.

Cai menduga, serbuk sari itu mungkin awalnya ditelan kumbang, tapi dimuntahkan kembali setelah kumbang terjebak resin pohon.

Untuk mengungkap asal usul serbuk sari itu, Cai meminta bantuan Liqin Li, ahli yang fokus mempelajari serbuk sari purba di Chinese Academy of Sciences dan ikut menulis laporan.

Dengan mengamati alur panjang pada butir berbentuk oval, Li mengidentifikasi serbuk sari itu adalah kepunyaan sikas kuno.

Para ahli juga menemukan, kerabat terdekat kumbang ini yang ditemukan di Australia juga menyerbuki sikas.

Berbeda dengan tanaman bunga, sikas merupakan tanaman berumah 2, ada jantan dan betina yang berbeda.

Saat seekor kumbang terbang ke kerucut tanaman jantan, ia mencari serbuk sari untuk makan atau tempat untuk bertelur, ia kemudian menyapu serbuk sari.

"Secara tidak langsung kumbang melakukan penyerbukan tanaman. Seperti simbiosis mutualisme, tanaman dibantu penyerbukan dan kumbang mendapat makanan," ujar Michael Engel, seorang paleontomolog di University of Kansas.

Meski kumbang berusia 99 juta tahun, Dr. Cai dan Dr. Engel yakin temuan mereka menjelaskan hubungan yang jauh lebih tua, mungkin sudah terjadi sejak Periode Trias/

Itu artinya, kumbang telah membantu penyerbukan tanaman lebih dari seratus juta tahun sebelum kupu-kupu dan lebah melakukan tugas itu pada tanaman bunga (sekitar 130 juta tahun lalu).

"Serangga dan tumbuhan adalah makhluk hidup yang paling mendominasi bumi. Hubungan inti, keduanya telah melewati berbagai periode waktu dan fosil ini hanya salah satu komponen di dalamnya," ujar Engel.

https://sains.kompas.com/read/2018/08/17/190300823/terjebak-di-batu-ambar-99-juta-tahun-kumbang-ini-ungkap-kisah-prasejarah

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.