Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Cerita Berthie, Tetap Enerjik Meski Hidup Melawan Dua Kanker

KOMPAS.com - Perawakannya masih gagah, senyumnya selalu tersungging, dan rambutnya masih lebat kendati memutih. Begitulah sekilas penampakan fisik Albert Charles Sompie (58).

Pantas saja tubuhnya masih bugar untuk seumurannya, Berthie, begitu dia disapa, merupakan mantan kapten tim softball nasional pada era 1980-1990.

Namun, meski Berthie mantan atlet yang terbilang rutin berolahraga, tidak ada jaminan hidupnya bebas dari penyakit. Padahal, Berthie juga dikelilingi orang-orang terdekat yang berkecimpung di dunia medis, sebut saja sang istri yang merupakan dokter gigi atau si kakak ipar yang adalah dokter paru.

Rupanya di balik keceriaan yang selalu dia tampakan, tersimpan kegetiran perjuangan yang harus dilakoni. Berthie pun memutar kembali kisah hidup dan penyakit yang harus dilawannya.

"Paru-paru kanan saya sudah dipotong setengah karena kanker. Waktu ketahuan sudah stadium 3B," terangnya saat ditemui usai acara "Kenali Kanker Kolorektal Lebih Dekat" di Jakarta pada Selasa (3/4/2018).

November 2005 menjadi bulan yang meruntuhkan semangat hidupnya. Tak pernah terbayang sebelumnya bahwa Berthie akan didera kanker bahkan terhitung sudah stadium lanjut.

Namun, sebenarnya dia telah menduga terkena kanker paru-paru. Pasalnya, berat tubuhnya selalu berkurang hampir tiap hari. Selain itu, dia punya kebiasaan buruk yang tidak bisa ditinggalkan sejak umur 17 tahun.

"Dulu tiap hari hisap 60 batang rokok. Meski atlet, saya enggak bisa tinggalkan kegiatan buruk itu," ungkapnya.

Awalnya, dia mengelak ada tumor sebesar enam sentimeter yang bersarang di paru-paru kanan. Dia ogah menjalani perawatan medis, dan malah menempuh pengobatan alternatif selama sebulan.

Beruntung, Berthie sadar atas risiko yang bakal diterima dan pada Desember 2005, menjalani operasi pengangkatan sebagian paru-parunya.

Kanker Kolorektal

Akan tetapi, nasib baik lagi-lagi tidak berpihak pada Berthie. Seusai operasi tersebut, Berthie kembali rutin berenang. Suatu waktu setelah berenang, dia merasakan sakit perut yang berlebihan dan berlanjut.

Dia berpikiran bahwa pola makan pedas kegemarannyalah yang menyebabkan sakit perut. Berthie memang gila cabai. Setiap hari, dia bisa melahap 60 cabai dalam berbagai olahan.

Dia pun memeriksakan diri ke dokter hingga diambil tindakan untuk kolonoskopi.

"Rupanya saya kena kanker usus, stadiumnya sama dengan kanker paru, 3B. Jadi juga harus operasi kanker usus, hanya berselang kurang dari tiga bulan dari paru," bebernya.

Dua pertiga ususnya dipotong, tetapi bisa disambungkan kembali sehingga Berthie tidak perlu memakai kantong stoma.

Berthie kini telah terbebas dari kanker. Menurut dia, mengelak justru memperburuk kondisi kanker. Dia pun mencoba tidak putus asa menerima vonis dokter kala itu dan membuktikan bahwa dirinya sanggup hidup hingga saat ini, bahkan tetap terlihat enerjik.

"Waktu diketahui kena dua kanker, dokter bilang harapan hidup saya tinggal tiga bulan," tuturnya.

"Saya sempat gantung sepatu, tidak lagi lagi latihan softball," kata Berthie lagi.

Pada 2006, peralatan softball ia bagikan ke kawan-kawannya. Teman-temannya tak ada yang menerima barang lungsuran tersebut. "Mereka kira saya mau mati," celetuknya sembari terkekeh.

Berthie lalu bangkit pada tahun 2007. Dia mulai memperbaiki gaya hidupnya, tidak lagi merokok dan kembali giat berolahraga. Daging merah pun ditinggalkannya, dan diganti menjadi sering minum jus dan makan sayur.

Kini, senyum terus merekah pada wajah Berthie. Baginya, kebahagian itu diciptakan dari dalam diri, apapun kondisinya, termasuk menjadi penyintas dua kanker.

https://sains.kompas.com/read/2018/04/06/173300123/cerita-berthie-tetap-enerjik-meski-hidup-melawan-dua-kanker

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke