Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Hapus Stigma, Dukung Penyandang Bipolar Jalani Pengobatan

KOMPAS.com - Agus Hidayat (26), warga Jakarta, sudah 3 tahun hidup dengan ganguan bipolar. Menurutnya, salah satu cobaan terberat adalah menghadapi stigma negatif masyarakat terhadap penyandang gangguan bipolar.

Tahun 2015, Agus mengalami gangguan tidur selama kurang lebih satu minggu. Setelah berkonsultasi ke psikiater dan menjalani sejumlah tes, dokter menjelaskan dirinya memiliki gangguan bipolar. Saat itu Agus berusia berusia 23 tahun.

Sejak saat itu, Agus harus berhadapan dengan stigma negatif dari masyarakat yang menganggap dirinya orang gila, tidak memiliki masa depan dan bahkan dianggap tidak bisa beraktivitas di lingkungan sosial.

"Bagi kami, stigma negatif sering sekali ditemui di masyarakat, baik di media sosial, tayangan telivisi, pergaulan sehari-hari, bahkan dalam keluarga sendiri. Hal itu terjadi karena masih banyak orang yang tidak mengetahui apa itu gangguan bipolar dan bagaimana menghadapinya," kata Agus.

Agus mengatakan, peran keluarga dan orang terdekat sangat dibutuhkan ketika stigma negatif di masyarakat tersebut membuat keadaan semakin memburuk. Salah satunya adalah menganggap orang yang berkonsultasi ke psikiater adalah dianggap orang sakit gila.

"Stigma sosial yang salah kaprah tersebut membuat penyintas merasa takut untuk pergi ke ahli untuk mencari bantuan pertolongan. Di satu sisi, mereka sangat butuh dibantu. Stigma tersebut sama sekali tidak membantu para penyintas gangguan bipolar," kata Agus, kepada Kompas.com, Senin (26/3/2018). 

Menurut Agus, para penyintas gangguan bipolar tidak membutuhkan stigma negatif sosial, namun hanya butuh diterima kembali dalam lingkungan sosial.

"Menerima kami kembali apa adanya dan tidak meremehkan gangguan mental kami, itu sudah sangat membantu kami untuk merasa lebih baik. Gangguan mental ini bisa terjadi pada semua orang dan masalah ini tidak hanya masalah pribadi, tetapi menjadi masalah bersama,"katanya.

Menurut para ahli, gangguan bipolar disebabkan ketidakseimbangan hormone serotonin dopamine yang berfungsi mengatur suasana hati seseorang.

Penyintas gangguan bipolar bisa menjadi sangat bahagia atau sedih secara berlebihan pada waktu yang tak terduga. Apabila tidak mendapat pendampingan yang tepat, seorang penyintas bisa melakukan tindakan yang membahayakan keselamatan jiwanya.

"Intinya adalah ketidakseimbangan hormon di otak yang mengatur suasana hati, dan setiap orang akan berbeda-beda. Biasanya, yang sering memicu adalah perlakukan dan perkataan orang lain. Tetapi ada juga yang disebabkan cuaca, seperti saya, kalau panas sering mudah bikin marah dan kalau hujan justru sering membuat saya depresi,"katanya.

Tiga kali dalam seminggu, Agus rutin berlatih meditasi, yoga dan berolah raga. Tidak lupa Agus mencari cara membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.

"Saya juga sering memilih makanan yang membuat suasana hati saya bagus,"kata Wakil Ketua Bipolar Care Indonesia (BCI) tersebut.

Selain aktif di BCI, Agus juga bergabung dengan organisasi lainnya di masyarakat dan dirinya berharap para penyintas tidak malu untuk datang ke psikolog atau meminta bantuan ke komunitas bipolar.

Alasannya, dalam kondisi stabil hidup seseorang bisa lebih produktif dan optimal kembali.

https://sains.kompas.com/read/2018/03/30/170000923/hapus-stigma-dukung-penyandang-bipolar-jalani-pengobatan

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke