Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Terdampak Erupsi Toba, Manusia Purba Afrika Tetap Bisa Bertahan

Banyak penelitian terdahulu yang mengatakan lemparan abu vulkaniknya mencapai 2.800 kilometer kubik ke atmosfer dan mendinginkan samudera. Selama beberapa tahun seluruh negeri dinaungi kegelapan dan terjadi penurunan suhu selama ribuan tahun. Peristiwa ini nyaris memusnahkan kehidupan bumi.

Seperti diberitakan KOMPAS.com salah satu negara yang terdampak adalah Afrika. Di daerah itu disebut terjadi musim dingin berkepanjangan yang menurunkan populasi secara drastis.

Tim peneliti asal Universitas Arizona sudah mengeluarkan pendapat bahwa letusan Toba tidak menimbulkan dampak ekstrem seperti diperkirakan penelitian sebelumnya.

Menyusul yang dilakukan Chad L. Yost dari Universitas Arizona dan timnya, peneliti asal American School of Classical Studies di Yunani juga memiliki bukti yang memperkuat temuan Yost dan rekannya. Mereka bahkan mengatakan kehidupan di Afrika tetap berjalan normal selama Toba meletus.

Bukti tak disengaja ini ditemukan oleh ahli geopolitik, Panagiotis Karkanas, yang menemukan benda berkilau saat sedang mengumpulkan sedimen di situs arkeologi Pinnacle Point 5-6 yang terletak di sepanjang pantai selatan Afrika Selatan. Lokasinya ada di bawah tanah Afrika.

"Itu adalah satu pecahan partikel dari jutaan partikel mineral lain yang sedang saya selidiki," ujar Karkanas dilansir Science Alert, Selasa (13/3/2018).

Setelah menganalisis kandungan kimia dari pecahan beling dan fragmen lain, terbukti bahwa pecahan itu berasal dari wilayah yang letaknya 9 kilometer jauhnya. Hal ini mengkonfirmasi bahwa pecahan tersebut berasal dari letusan super, tidak lain letusan Toba.

Selain menemukan partikel mineral yang diduga kuat berasal dari letusan Toba, mereka juga menemukan hal lain yang mematahkan dugaan dari penelitian sebelumnya.

Dalam publikasi jurnal Nature, Senin (12/3/2018), mereka menemukan artefak, tulang, dan sisa-sisa budaya yang digunakan masyarakat Afrika kuno setelah melakukan pengamatan terhadap setiap sentimeter dari lapisan dinding batu setinggi 1,5 meter.

Dari jejak yang tertinggal itu, mereka memastikan letusan Toba tidak mengganggu kehidupan masyarakat Afrika di masa lalu.

"Bukti kami menunjukkan selama dan setelah masa letusan Toba, orang-orang Afrika tetap tinggal di situs ini terus menerus," jelas rekan peneliti Erich Fisher dari Arizona State University.

Hal ini menjadi sangat kontras dibanding penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa musim dingin akibat abu vulkanik Toba nyaris membawa manusia ke ambang kepunahan.

Tim berspekulasi hal ini mungkin saja terjadi karena lokasi yang letaknya di pesisir, di mana mereka percaya orang pesisir masa lalu memiliki cara bertahan dan terus melanjutkan hidup saat bencana besar datang.

Para periset yang tergabung dalam penelitian menduga kehidupan di pesisir yang memiliki kedekatan dengan laut dan kehidupan di dalamnya menjadi alasan yang membuat manusia pada masa lalu bisa bertahan melewati kegelapan musim dingin karena abu vulkanik yang mematikan.

Sekali lagi, ini masih hipotesis sementara dan bukan untuk disepakati semua orang. Sebab itu diharapkan ada penelitian lanjutan yang bisa mengungkap apa yang sebenarnya terjadi saat Toba dulu meletus.

Berkat teknik analisis baru yang telah disempurnakan oleh para periset mungkin tidak lama lagi kita juga akan tahu dampak dari letusan toba terhadap kawasan yang jauh dari lautan untuk mengetahui seberapa dahsyat letusannya.


https://sains.kompas.com/read/2018/03/13/190000723/terdampak-erupsi-toba-manusia-purba-afrika-tetap-bisa-bertahan

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke