Salin Artikel

Ini Rahasia Bakteri Mampu Ciptakan Emas

Emas sendiri berasal dari bintang mati yang jauh dari bumi. Para ilmuwan memperkirakan emas berasal dari supernova yang membombardir bumi sekitar 200 juta tahun lalu. Tapi kini emas dapat diciptakan manusia.

Seperti diberitakan KOMPAS.com sebelumnya, saat ini tim peneliti Internasional sedang mengembangkan tambang emas dari limbah elektronik. Mereka menemukan bakteri yang dapat mengambil jejak emas dalam limbah elektronik dan mengubahnya menjadi emas.

Menurut associate professor dari University of Adelaide, Frank Reith, temuan ini akan sangat berarti bagi perusahaan tambang. Teknik yang dilakukannya diklaim tak akan memberi dampak negatif bagi kesehatan, komunitas, atau lingkungan.

Dalam makalah yang terbit di Metallomics, Rabu (31/1/2018), bakteri yang dimaksud oleh Reith adalah Cupriavidus metallidurans.

Mereka menemukan bakteri C. metallidurans dapat tetap hidup saat menelan senyawa logam beracun, efek sampingnya justru bakteri tersebut menghasilkan sejumlah emas kecil.

Emas mirip banyak elemen lainnya yang dapat bergerak melalui siklus biogeokimia. Di mana emas akan larut, bergeser, dan akhirnya terkonsentrasi kembali di endapan bumi.

Uniknya, C. metallidurans yang sudah ditemukan sejak 2009 terlibat dalam setiap prosesnya. Inilah yang membuat para peneliti bertanya-tanya bagaimana mungkin bakteri tersebut tidak mati oleh senyawa beracun yang biasanya ada di dalam tanah.

"Penelitian ini menunjukkan bagaimana C. metallidurans terlibat dalam detoksifikasi emas yang kompleks," ujar Reith yang merupakan ahli geomikrobiologi dan merupakan peneliti utama dalam penelitian ini pada 2009.

Sejak pertama kali ditemukan, kini Reith dan koleganya tahu bagaimana mekanisme bakteri dapat mencapai prestasi yang menakjubkan ini.

Dalam penelitiannya, mereka menemukan bahwa C. metallidurans tumbuh subur di tanah yang mengandung mineral dan logam berat beracun.

Di dalam tanah itu, organisme sering bersentuhan dengan dua jenis logam berat, yakni tembaga dan emas. Umumnya, tembaga dan emas dapat mudah terserap ke dalam sel dan menempatkan bakteri pada risiko keracunan logam berat atau toksisitas logam.

"Jika organisme memilih untuk bertahan hidup di lingkungan seperi itu, ia harus memiliki cara untuk melindungi diri dari zat beracun," imbuh Dietrich H Nies dari Martin Luther University Halle-Wittenberg di Jerman, dilansir Science Alert, Selasa (6/2/2018).

Peneliti menemukan bakteri tersebut memiliki mekanisme pelindung diri yang canggih, tak hanya pada emas tapi juga tembaga.

C. metallidurans bisa tetap hidup karena ia memiliki enzim yang dapat mendorong tembaga dan emas keluar dari sel mereka. Ia memiliki dua enzim berbeda untuk menangani tembaga dan emas.

Dalam mengatasi tembaga mereka memiliki enzim yang disebut CupA, sementara untuk menangani emas mereka memiliki enzim yang disebut CopA.

Dengan kedua molekul tersebut, bakteri C. metallidurans dapat mengubah senyawa emas dan tembaga menjadi bentuk yang sulit diserap oleh sel.

Proses tersebut juga yang membuat C. metallidurans menumpahkan semua tembaga yang tidak diinginkan dan sekaligus menghasilkan sejumlah partikel kecil emas di permukaan bakteri.

Dengan memahami C. metallidurans yang dapat mengeluarkan sejumlah emas berukuran kecil, berarti para ilmuwan memiliki peluang besar untuk membuka siklus biogeokimia emas.

Di masa depan, pengetahuan ini juga bisa digunakan untuk memperbaiki logam mulia dari bijih yang hanya mengandung sejumlah kecil logam.

https://sains.kompas.com/read/2018/02/09/170000223/ini-rahasia-bakteri-mampu-ciptakan-emas

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kanker Payudara Menyebar Lebih Cepat Saat Malam Hari, Studi Jelaskan

Kanker Payudara Menyebar Lebih Cepat Saat Malam Hari, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Vaksin Merah Putih Mulai Uji Klinis Fase 3, BPOM Libatkan 4.005 Sukarelawan

Vaksin Merah Putih Mulai Uji Klinis Fase 3, BPOM Libatkan 4.005 Sukarelawan

Oh Begitu
2 Bibit Siklon Tropis Tumbuh di Utara Indonesia, Waspada Dampaknya

2 Bibit Siklon Tropis Tumbuh di Utara Indonesia, Waspada Dampaknya

Fenomena
Sekitar 1,7 Juta Anak Indonesia Belum Imunisasi Dasar Lengkap, Apa Dampaknya?

Sekitar 1,7 Juta Anak Indonesia Belum Imunisasi Dasar Lengkap, Apa Dampaknya?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro | Rompi Penurun Suhu | Manik Bipolar Marshanda

[POPULER SAINS] Fenomena Langka Bulan Baru Stroberi Mikro | Rompi Penurun Suhu | Manik Bipolar Marshanda

Oh Begitu
Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Misteri Pemicu Zaman Es Akhirnya Terpecahkan, Apa Penyebabnya?

Fenomena
Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Mengapa Manusia Tak Bisa Minum Air Asin?

Oh Begitu
Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Hilal Idul Adha 2022 Kecil Kemungkinan Bisa Teramati, Ini Penjelasan BMKG

Fenomena
Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Gas Klorin Meledak di Pelabuhan Aqaba, Apa Itu?

Fenomena
Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Waspada Gejala Cacar Monyet, Apa Saja yang Harus Diperhatikan dari Hari ke Hari?

Oh Begitu
Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Viral Video Ikan Duyung di Pantai Ambon, Hewan Apa Itu?

Oh Begitu
Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Virus Polio Ditemukan pada Limbah Kotoran Manusia, Kok Bisa?

Fenomena
Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Cacar Monyet: Informasi Lengkap yang Harus Anda Ketahui

Oh Begitu
Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Cegah Heat Stroke Selama Musim Haji 2022, Rompi Penurun Suhu Disiapkan untuk Jemaah

Oh Begitu
Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Diterapkan di 3 Kabupaten, Pendekatan Klaster Bisa Jadi Solusi Karhutla

Fenomena
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.