Salin Artikel

Terumbu Karang Terus Memutih, Apa Dampaknya Bagi Manusia?

KOMPAS.com - Perubahan iklim ternyata punya dampak besar pada terumbu karang. Hal ini diungkapkan dalam sebuah penelitian terbaru.

Dalam penelitian tersebut diungkapkan bahwa karang memutih lebih banyak dan lebih sering karena pemanasan perairan laut. Pemutihan karang ini bisa menyebabkan karang tersebut mati.

Padahal, seperti yang kita ketahui, karang merua=pakan penyedia makanan dan keuntungan bagi ribuan spesies. Maka, risiko bahwa karang akan menghilang di masa depan bisa saja terjadi jika kita tak menghentikan perubahan iklim.

Temuan ini didapatkan setelah para peneliti menganalisis data tentang kejadian di 100 lokasi terumbu karang di seluruh dunia mulai dari 1980 hingga 2016. Mereka menemukan bahwa tingkat pemutihan karang meningkat lebih dari empat kali lipat dalam periode tersebut.

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini, hal tersebut dikarenakan perairan laut yang mengalami pemanasan.

Pemutihan sendiri terjadi karena alga berwarna-warni yang hidup dalam karang dikeluarkan. Biasanya, hal ini terjadi karena air di sekitarnya terlalu hangat atau terlalu dingin, karena pasang surut yang ekstrem.

Sayangnya, hal ini merupakan bencana untuk terumbu karang. Itu karena alga atau ganggang menyediakan 90 persen energi karang.

Dengan kata lain, tanpa alga karang menjadi putih seperti kelaparan.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa pemanasan global menyebabkan karang memutih dan kadang mati. Namun penelitian terbaru ini memberi gambaran nyata seberapa sering kejadian pemutihan ini sekarang terjadi dibanding di masa lalu.

"Jumlah percepatan yang kami lihat benar-benar mengejutkan," kata Mark Eakin, ahli terumbuh karang dikutip dari The Verge, Kamis (04/01/2018).

"(Ini) membingungkan dan angat menakutkan saat Anda mempertimbangkan apa artinya bagi masa depan terumbu karang," sambung lelaki yang menjadi koordinator NOAA's Coral Reef Watch tersebut.

Air laut yang memanas menyebabkan karang memutih lebih sering, tak hanya saat terjadi El-Nino saja tapi pola iklim berulang yang membawa air hangat ke Samudera Pasifik tropis juga mempengruhi cuaca di seluruh dunia.

Menurut Eakin, salah satu pemutihan karang global terjadi mulai pada Juni 2014 dan berlanjut selama tiga tahun pada Mei 2017.

Tery Hughes, co-author penelitian ini menyebut bahwa sebelum 1980-an, kasus pemutihan karang tidak pernah terjadi. Hughes juga menjelaskan, pemutihan karang pernah terjadi pada 1980-an dan 1990-an.

Hal ini terjadi terutama saat El Nino yang sangat kuat. Tapi saat ini perairan laut begitu hangat sehingga "tidak memerlukan El Nino untuk tingkat pemutihan karang bahkan dalam skala global," kata Eakin.

Kehilangan terumbu karang merupakan hal buruk bagi lingkungan dan manusia. Pasalnya, lebih dari 25 persen spesies laut bergantung pada terumbu karang untuk bertahan hidup.

Selain itu, terumbu karang juga melindungi garis pantai dari badai dan menyediakan makanan untuk masyarakat di negara seperti Indonesia dan Filipina. Di Australia, terumbu karang yang disebut Great Barrier Reef menyediakan pendapatan dan lapangan kerja dari sektor pariwisata dan penangkapan ikan bagi hampir 70.000 orang.

Cara terbaik melindungi terumbu karang adalah dengan megatasi perubahan iklim. Membatasi emisi gas rumah kaca utuk memenuhi kesepakatan Paris yang menjaga pemanasan global di bawah 1,5 sampai 2 derajat Celcius adalah kunci, kata Hughes.

Salain itu, mengurangi polusi air, penangkapan ikan perlebihan, dan perusakan habitat mutlak dilakukan.

Saat ini, para ilmuwan juga sedang mencoba mengembangkan karang super yang tahan terhadap pemanasan air. Para peneliti Australia juga mencari cara pendinginan air laut di sekitar terumbu karang saat pemutihan terjadi, untuk mengatasi kerusakan tersebut.

https://sains.kompas.com/read/2018/01/06/210500223/terumbu-karang-terus-memutih-apa-dampaknya-bagi-manusia-

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Muncul Subvarian Baru Omicron BA.4.6, Ini Penjelasan Epidemiolog

Muncul Subvarian Baru Omicron BA.4.6, Ini Penjelasan Epidemiolog

Oh Begitu
3 Fakta Rebound Covid-19, Kondisi yang Sempat Dialami Presiden AS Joe Biden

3 Fakta Rebound Covid-19, Kondisi yang Sempat Dialami Presiden AS Joe Biden

Oh Begitu
Vaksin Khusus Omicron BioNTech Diharapkan Dikirim Setelah Oktober

Vaksin Khusus Omicron BioNTech Diharapkan Dikirim Setelah Oktober

Oh Begitu
Penyakit Kanker di Indonesia Meningkat, Ini Strategi Kemenkes Mengatasinya

Penyakit Kanker di Indonesia Meningkat, Ini Strategi Kemenkes Mengatasinya

Oh Begitu
Ahli Ungkap Kehidupan Kelas Menengah di Pompeii Sebelum Hancur

Ahli Ungkap Kehidupan Kelas Menengah di Pompeii Sebelum Hancur

Oh Begitu
Dampak Polusi Udara bagi Anak-Anak

Dampak Polusi Udara bagi Anak-Anak

Kita
Studi Ungkap Ikan Pari Ternyata Memproduksi Suara

Studi Ungkap Ikan Pari Ternyata Memproduksi Suara

Oh Begitu
Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG 9-10 Agustus 2022 akibat Bibit Siklon Tropis 97W

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem BMKG 9-10 Agustus 2022 akibat Bibit Siklon Tropis 97W

Fenomena
Apa Itu Baby Blues, Perasaan Sedih yang Muncul Setelah Melahirkan?

Apa Itu Baby Blues, Perasaan Sedih yang Muncul Setelah Melahirkan?

Oh Begitu
Mungkinomologi Asal Mula Kehidupan

Mungkinomologi Asal Mula Kehidupan

Oh Begitu
Kasus Positif Covid-19 Anak Meningkat, Epidemiolog Ingatkan Pentingnya Vaksinasi dan Prokes

Kasus Positif Covid-19 Anak Meningkat, Epidemiolog Ingatkan Pentingnya Vaksinasi dan Prokes

Oh Begitu
Tren Kasus Covid-19 pada Anak Sekolah Meningkat, Ini Penyebabnya Kata Epidemiolog

Tren Kasus Covid-19 pada Anak Sekolah Meningkat, Ini Penyebabnya Kata Epidemiolog

Oh Begitu
Gempa Terkini M 5,0 Guncang Lampung Tak Berpotensi Tsunami

Gempa Terkini M 5,0 Guncang Lampung Tak Berpotensi Tsunami

Fenomena
Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter Masih Terjadi pada 9-10 Agustus 2022

Waspada Gelombang Sangat Tinggi 6 Meter Masih Terjadi pada 9-10 Agustus 2022

Fenomena
[POPULER SAINS] Isolasi Mandiri Cacar Monyet | Bayi 6 Bulan Meninggal Usai Diajak Naik Motor | Relief Candi Jago Ungkap Gambaran Siksa Neraka

[POPULER SAINS] Isolasi Mandiri Cacar Monyet | Bayi 6 Bulan Meninggal Usai Diajak Naik Motor | Relief Candi Jago Ungkap Gambaran Siksa Neraka

Oh Begitu
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.