Salin Artikel

Kisah Nyata dari Turki, Katak Menumpang di Punggung Kerbau Air

KOMPAS.com -- Ini bukan dongeng. Menurut sebuah studi yang baru saja dipublikasikan dalam jurnal Acta Herpetologica, katak-katak kecil di Turki gemar menumpang di punggung kerbau air.

Fenomena langka ini pertama kali diketahui oleh Piotr Zudniak, seorang pakar ekologi dari Adam Mickiewicz University di Polandia, saat sedang mengamati burung di delta Kizilimark.

Ketika musim gugur tiba, para petani di pesisiran Laut Hitam melepaskan kerbau air mereka untuk berkubang di rawa-rawa. Pada saat itulah, katak-katak kecil di delta Kizlimark memanjat bulu kerbau air dan menumpang di punggungnya.

Melihat kejadian tersebut, Zudniak pun mengumpulkan para peneliti untuk kembali ke bagian utara Turki pada tahun berikutnya. Mereka pun berhasil mencatat dan mengamati kejadian serupa sebanyak sepuluh kali.

Dalam satu kejadian, seekor kerbau air bahkan ditumpangi oleh 27 katak sekaligus, walaupun jumlah rata-rata per kerbau air biasanya hanya dua hingga lima katak.

Menurut Zudniak dan kolega, kerbau air dan katak rawa di Turki memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Ketika musim gugur tiba, jumlah katak di rawa-rawa meningkat drastis dan untuk menghindari persaingan, amfibi ini menaiki kerbau dan memakan serangga pada punggungnya.

Selain itu, kerbau air sebagai mamalia berdarah hangat juga berfungsi sebagai pemanas alami untuk katak yang berdarah dingin ketika suhu menurun selama musim gugur.

Sebaliknya, kerbau juga mendapatkan manfaat dari katak. Mereka terbebas dari lalat, kutu, dan serangga lain yang membuat gatal dan membawa penyakit.

Namun, Judith Brostein, seorang pakar ekologi dari University of Arizona yang tidak terlibat dalam studi, meragukan dugaan Zudniak dan kolega. Dia berkata bahwa simbiosis mutualisme di antara hewan vertebrata sangatlah langka.

“Kasus mutualisme yang paling dipahami di antara dua spesies vertebrata biasanya melibatkan satu spesies yang membersihkan parasit dari spesies lainnya, seperti ikan pembersih dan ikan inangnya,” ujarnya kepada National Geographic 17 Agustus 2017.

Selain itu, contoh lainnya adalah berbagai macam burung yang bergabung menjadi satu kawanan untuk melindungi diri dari predator.

Oleh karena itu, bukti lebih lanjut masih dibutuhkan untuk menyebut hubungan katak dan kerbau di Turki sebagai simbiosis mutualisme. “Dewan juri masih belum teryakinkan oleh sifat dari interaksi ini. Namun, jika aku harus mempertaruhkan uangku, aku akan meletakannya pada bukan mutualisme,” katanya.

https://sains.kompas.com/read/2017/08/18/080600923/kisah-nyata-dari-turki-katak-menumpang-di-punggung-kerbau-air

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.