Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Jadi Diplomat dan Mata-mata, Ini Perjuangan Perempuan demi Indonesia

KOMPAS.com -- Republik Indonesia belum sepenuhnya terbebas dari berbagai ancaman setelah mendeklarasikan kemerdekaannya. Perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan harus tetap dilakukan untuk menjaga eksistensi Republik ini.

Tidak hanya Tentara Nasional Indonesia saja yang berjuang, perempuan-perempuan yang hidup di masa revolusi juga terpanggil untuk ikut ambil bagian.

Namun, jangan kemudian membayangkan jika keterlibatan perempuan hanya maju di medan perang saja. Bentuk partisipasi mereka mempertahankan kemerdekaan terwujud dengan berbagai macam cara yang berbeda.

"Membahas perempuan di masa revolusi merupakan topik yang menarik karena narasi perempuan biasanya identik dengan medan perang dan laskar, dapur umum dan palang merah. Selebihnya keterlibatan mereka di berbagai aspek lain dalam masa revolusi jarang terungkap," kata Galuh Ambarsasi, salah satu penulis buku Gelora di Tanah Raja : Yogyakarta Pada Masa Revolusi 1945-1949 kepada Kompas.com.

"Padahal mereka punya kisah sendiri dalam mempertahankan kemerdekaan yang harus ditulis," imbuhnya.

Seperti yang dilakukan oleh Soenarjo Mangoen Poespito. Saat itu dia baru saja menjabat sebagai ketua Kongres Wanita Indonesia (Kowani) selama tiga bulan. Soenarjo merasakan betapa pentingnya mengabarkan berita kepada dunia jika Indonesia telah merdeka.

Oleh karena itu, saat mendapat surat undangan dari All Indian's Women Congress yang akan menyelenggarakan pertemuan di Madras, India; dia tak mau ambil pusing. Soenarjo bergegas menyiapkan kepergiannya ke India meski saat itu tak punya uang dan paspor.

Untungnya, Dewi Fortuna berpihak kepadanya. Seorang pengusaha asal India, Biju Patnaik, akan segera kembali ke negaranya.

Bersama dengan dua orang lainnya, Oetami Soerjadharma dan Joelie Soelianti Sarosa, serta seorang wartawan harian Merdeka bernama Herawati Diah; Soenarjo akhirnya bertolak ke India dengan menumpang pesawat Dakota Kalinga Airline milik Patnaik.

Selama di India, mereka tidak mau membuang-buang waktu. Delegasi dadakan ini menjadi latar perjuangan untuk pengakuan de jure bagi Republik Indonesia.

"Jadi itu sama pentingnya dengan yang dilakukan di medan perang, mereka menceritakan, dan bertemu dengan banyak orang untuk memperkenalkan Republik Indonesia," kata Galuh.

Kisah perjuangan lain juga ditampilkan oleh sosok Marsilah, kembang desa asal kampung Klitren Kidul Yogyakarta yang saat itu masih berusia 16 tahun. Marsilah yang punya paras cantik 'didaulat' menjadi mata-mata.

Bak Black Widow dalam film super hero The Avengers, Marsilah bertugas memikat hati seorang inspektur polisi pribumi yang memihak Belanda. Bernama Ikhsan, polisi tersebut terkenal kejam dan juga seorang hidung belang. Ikhsan yang terpikat dengan kecantikan Marsilah, dengan mudah menuruti kemauan gadis tersebut untuk berjalan-jalan ke toko perak.

Akhir cerita pun bisa ditebak, drama penangkapan Ikhsan berjalan mulus sesuai rencana, meski Marsilah kemudian harus ditangkap dan disiksa oleh teman-teman Ikhsan.

Namun, kisah-kisah perempuan-perempuan yang terangkum dalam buku Gelora di Tanah Raja: Yogyakarta Pada Masa Revolusi 1945-1949 ini bukan hanya untuk menunjukkan bagaimana cerita perjuangan mereka membela kemerdekaan. Ada pesan lain yang bisa dilihat dari keterlibatan mereka.

Perempuan-perempuan ini menunjukkan bagaimana persatuan dan toleransi sudah terbangun kala itu.

"Perempuan di Yogyakarta pada periode 1946-1949 berasal dari berbagai latar belakang, ideologi, ekonomi, etnis, dan status sosial. Bukan hanya perempuan Jawa saja. Tanpa memandang perbedaan itu, mereka semua sama-sama mempertahankan kemerdekaan," kata Galuh.

"Sementara realitas sekarang, soal keberagaman dan toleransi inilah yang kadang terlupakan," imbuhnya.

https://sains.kompas.com/read/2017/08/17/205215423/jadi-diplomat-dan-mata-mata-ini-perjuangan-perempuan-demi-indonesia

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke