Kesalahan Diagnosis Kanker Paru Sering Terjadi, Anda Turut Berperan - Kompas.com

Kesalahan Diagnosis Kanker Paru Sering Terjadi, Anda Turut Berperan

Kompas.com - 06/02/2018, 18:00 WIB
Ilustrasi. Ilustrasi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kekeliruan diagnosis kanker paru dan TB Pulmonori  kerap menimpa masyarakat. Kasus ini pernah diteliti di Rumah Sakit Moewardi, Surakarta.

Hasilnya, hampir 28,7 persen pasien kanker paru mengalami kesalahan diagnosis dengan TB-Pulmonari. 

Sebanyak 73,4 persen pasien yang salah diagnosis itu bahkan sudah menjalani perawatan anti-TB selama lebih dari satu bulan. Nyatanya, hanya 2,5 persen yang mengalami TB.

Ia menyampaikan hal itu pada Selasa, (6/2/2018) dalam acara Media Health Forum yang bertajuk Meningkatkan Kepedulian Masyarakat dan Akses Terapi Kanker Paru di Indonesia di Jakarta.

Menurut Elisna, pasien turut berperan atas kekeliruan tersebut. Dokter paru yang bertugas di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta ini memakai istilah delay diagnosis untuk menyebut fenomena salah diagnosis.

Ada dua hal yang membuat delay diagnosis terjadi. Pertama, dari pasien itu sendiri yang terlambat memeriksakan penyakitnya. Pasien memilih menunda mengeceknya ke dokter dengan beragam alasan. Pasien justru bertandang ke pengobatan non-medis untuk mendapatkan penyembuhan.

Baca juga : Mengenal Macam-macam Pengobatan untuk Kanker Paru

“Ini namanya patient delay,” ujar Elisna. Kondisi ini umum dikenal sebagai patient delay diagnosis.

Jika kondisi tersebut sudah terjadi, Elisna menyarankan pasien tersebut sebaiknya melanjutkan terlebih dahulu pengobatan anti-TB selama enam bulan. Kemudian, pengecekan ulang tentang penyakitnya bisa dilakukan. 

Pasalnya, ketika tubuh dimasuki obat anti-TB, sel kanker terlihat aktif. Sebaliknya, ketika diberi obat kanker, sel penyebab TB-pulmonari yang berubah aktif.  Ditakutkan akan memicu kebingungan diagnosis berikutnya.

Faktor kedua yang membuat salah diagnosis adalah doctor delay diagnosis. Dokter keliru saat membedakan antara kanker paru dan TB-pulmonori. Saat itu, bisa jadi pasien tersebut sebenarnya memang mengidap dua penyakit tersebut

Elisna menegaskan, untuk mengurangi kejadian salah diagnosis tersebut, hanya dokter onkologilah yang sebetulnya berhak untuk mengidentifikasi dua penyakit saluran pernapasan ini pada pasien.

Jika dokter menjumpai pasien dengan risiko bukan TB, maka ia perlu mengecek tanda-tanda TB pada orang tersebut, lalu dipantau hingga enam bulan ke depan. Setelah itu, ditindaklanjuti apakah tanda kanker terlihat.

Baca juga : Tak Bergejala, Kanker Paru Baru Ditemukan di Stadium Lanjut


EditorYunanto Wiji Utomo
Komentar
Close Ads X