Kisah Nyata, Anak yang Bagian Visual Otaknya Rusak Masih Bisa Melihat - Kompas.com

Kisah Nyata, Anak yang Bagian Visual Otaknya Rusak Masih Bisa Melihat

Resa Eka Ayu Sartika
Kompas.com - 07/12/2017, 20:00 WIB
MRI kerusakan korteks visual MRI kerusakan korteks visual

KOMPAS.com -- Seorang anak berusia tujuh tahun di Australia dapat melihat dengan cukup baik meski sebagian besar korteks visualnya rusak akibat cedera parah saat lahir. Bahkan, anak tersebut mampu mengenali wajah dengan baik dan bermain sepak bola.

Dalam sebuah konferensi ilmu saraf di Sydney minggu ini, para peneliti dari Australian Regenerative Medicine Institute di Monash University menjelaskan bahwa pada usia dua minggu, anak yang hanya disebut BI  menderita cedera lobus oksipital bilateral. Dengan kata lain, bagian korteks visual BI rusak.

"Meski mengalami kerusakan korteks oksipital bilateral yang parah, BI masih memiliki kemampuan visual sadar yang besar, tidak buta, dan menggunakan penglihatan untuk menavigasi lingkungannya," ungkap para peneliti, seperti dikutip dari Science Alert, Kamis (7/12/2017).

Retina mengirim pesan dari saraf optik ke pusat pemancar di wilayah thalamus yang disebut Pulvinar Inferior. Bagian ini berfungsi membantu mengendalikan dan memfokuskan mata berdasarakan objek yang ada di garis pandang.

Baca juga: PBB Beri Peringatan Dampak Polusi Udara pada Otak Anak

Lalu, data terus menuju korteks visual atau sering disebut area visual 1 (V1). Di sinilah, kita bisa melihat apa yang berada ditangkap oleh mata.

Sayangnya pada saat bayi, BI menderita kekurangan asil-Co-A dehidrogenase (MCAD) rantai sedang. Kondisi ini mencegah jaringan mengubah lemak tertentu menjadi energi yang mengakibatkan luka pada bagian pada V1-nya.

Seharusnya, kondisi ini mengganggu proses pengubahan informasi retina menjadi gambar yang koheren. Namun, tidak dengan BI. 

Inaki-Carril Mundinano, salah satu ilmuwan saraf di Monash University, berkata bahwa tidak akan ada yang menduga bahwa BI buta. "Dia menavigasi jalan tanpa masalah dan bermain sepak bola dan bermain video games," kata Mundinano.

Para peneliti sempat mengira bahwa BI memiliki blindsight, sebuah kondisi yang kurang lebih seperti melihat tanpa sadar akan gambar apapun sehingga seseorang dapat merespons rangsangan visual atau "perasaan" seperti gerakan.

Namun, yang dialami oleh BI bukan blindsight, dia benar-benar bisa melihat gambar nyata dari apa yang ditangkap matanya.

Baca juga: Kok Bisa Kecanduan Telepon Pintar Ganggu Keseimbangan Kimia Otak?

"Dia secara sadar mengenali wajah senang dan netral, serta warna. Ini adalah sebuah tugas yang terkait dengan pemrosesan aliran ventral," ungkap Mundinano.

Menurut para peneliti, hal ini mungkin karena luka terjadi saat B.I masih cukup muda sehingga otaknya yang sedang berkembang bisa mengalihkan informasi dari retina ke salah satu unit korteks visual lainnya.

Untuk menguji hal ini, para peneliti memetakan saluran saraf otak B.I menggunakan Magnetic Resonance Imaging (MRI). Mereka fokus pada saluran antara pilvinar inferior dan bagian dari korteks visual yang disebut area visual temporal tengah. Saluran ini membantu mendeteksi gerakan.

Benar saja, saluran ini tampak lebih besar dari yang diperkirakan di bagian kiri otak. Artinya, "stasiun penyiaran" pulvinar mengambil alih tanggung jawab V1 di awal perkembangan otak.

Menurut para peneliti, fenomena ini menunjukkan betapa luar biasa flesksibelnya wilayah abu-abu di otak kita.

PenulisResa Eka Ayu Sartika
EditorMichael Hangga Wismabrata
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM