Seperti Manusia, Hewan Juga Punya Selera Humor - Kompas.com

Seperti Manusia, Hewan Juga Punya Selera Humor

Lutfy Mairizal Putra, Michael Hangga Wismabrata
Kompas.com - 08/11/2017, 19:35 WIB
Ponso, simpanse berusia 40 tahun ini, terlihat gembira saat kedatangan tamu. Kebahagiannya nampak nyata setelah selama tiga tahun terakhir dia hidup sendiri terisolasi di sebuah pulau di lepas pantai Liberia, Afrika Barat.Estelle Raballand/Facebook Ponso, simpanse berusia 40 tahun ini, terlihat gembira saat kedatangan tamu. Kebahagiannya nampak nyata setelah selama tiga tahun terakhir dia hidup sendiri terisolasi di sebuah pulau di lepas pantai Liberia, Afrika Barat.


KOMPAS.com – Pada manusia, humor sudah menjadi bagian yang lekat. Lihat saja, berbagai televisi maupun di sejumlah kafe telah rutin menyuguhkan komedi tunggal atau stand up comedy. Bagi orang Indonesia, komedi bisa dirasakan bahkan saat radio masih jadi primadona.

Namun, apakah hanya manusia yang punya selera humor? Mungkinkah hewan juga punya selera humor dan punya kebudayaan seperti manusia?

Para filsuf dan psikolog telah berusaha mendefinisikan humor sejak ribuan tahun lalu. Salah satu yang terkenal adalah “teori keganjilan” humor. Teori tersebut mengatakan bahwa humor muncul saat tidak tercapainya antara harapan dan realita. Pada tahap ini, humor bekerja melalui permainan kata, ironi, dan lika-liku nasib.

Sayangnya, cukup sulit menemukan hewan yang masuk dalam definisi tersebut. Hewan kekurangan mekanisme kognitif dan jaringan otak.

Baca juga: Perubahan Selera Humor Bisa Jadi Gejala Awal Demensia

Seperti diwartakan Live Science pada Senin (6/11/2017), gorilla dataran rendah barat bernama Koko merupakan pengecualian. Primata itu mampu memahami lebih dari 1.000 tanda bahasa isyarat Amerika dan 2.000 kata bahasa Inggris lisan.

Koko membuat humor dengan bahasa, yakni bermain dengan makna yang berbeda dengan kata yang sama. Koko juga paham komedi slapstick: ia memberi tahu pelatihnya isyarat “mengejar” dengan lebih dulu mengikat tali sepatu sang pelatih. Menikmati kecanggungan pelatihnya, Koko pun tertawa.

Mari beranjak dengan teori humor lainnya. Para psikolog mengajukan bahwa humor muncul dari penyimpangan lunak yang tak berbahaya. Ini mungkin bisa menjelaskan mengapa kita tertawa.

Penyimpangan lunak didefinisikan sebagai "sesuatu yang mengancam struktur kepercayaan diri, identitas atau norma seseorang, tapi secara bersamaan tampaknya baik-baik saja," tulis Warren Caleb, seorang psikolog dalam laporan di Journal of Personality and Social Psychology pada Maret 2016.

Saat seseorang dikelitik, terjadi penyimpangan lunak terhadap ruang fisik seseorang. Maka, Anda tak bisa tertawa karena mengelitik diri sendiri. Orang asing pun tidak bisa membuat Anda tertawa karena tergelitik, sebab Anda tidak melihatnya sebagai penyimpangan lunak.

Jika mengikuti teori ini, berbagai hewan punya selera humor.

Sebuah penelitian pada 2009 menunjukkan bahwa primata seperti simpanse, bonobo, gorilla, dan orangutan, membuat suara tawa saat digelitik. Suara yang sama juga muncul saat mereka saling berkejaran.

Dengan demikian, humor dan kemampuan manusia tertawa mungkin berasal dari nenek moyang kera besar itu.

Baca juga: Jangan Ditanyakan Lagi, Ini Alasan Kera Tidak Berevolusi Jadi Manusia

Lalu, dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Plos One pada 10 Juni 2015, Kim A Bard dan koleganya menunjukkan bahwa simpanse dapat membuat “wajah tertawa” meski diam layaknya manusia.

Selain itu, anjing juga punya semacam tawa kembang-kempis dan bermain dengan wajah yang menimbulkan kelucuan.

Tak disangka-sangka, hewan yang paling menarik minat para peneliti untuk digelitik dan tertawa adalah tikus. Saat digelitik oleh manusia, atau bermain kasar dan berguling dengan tikus yang sama besar, hewan pengerat itu mengeluarkan decit ultrasonik 50 kHz.

PenulisLutfy Mairizal Putra, Michael Hangga Wismabrata
EditorResa Eka Ayu Sartika
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM