Ibu Hamil Hampir Mati karena Kaki Janinnya Keluar dari Rahim, Umumkah? - Kompas.com

Ibu Hamil Hampir Mati karena Kaki Janinnya Keluar dari Rahim, Umumkah?

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 19/10/2017, 18:40 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com – Seorang wanita asal China yang hamil 35 minggu terpaksa dilarikan ke ruang gawat darurat.

Zhang, nama samarannya, mengalami sakit perut ekstrem akibat sobekan pada rahim.

Seperti dilaporkan oleh New York Post, Rabu (11/10/2017), hasil pemeriksaan dokter di Rumah Sakit Shenzhen Universitas Peking dengan USG, Zhang mengalami ruptur uteri, sobekan pada rahim yang dapat menyebabkan bayi menonjol ke perut.

Dalam kasus yang dialami Zhang, kaki bayi berada di rongga perut dan paha bayi tertancam di dinding rahim.

Mungkinkah kasus itu terjadi karena kaki bayi menendang ke luar?

Kasus ruptur uteri merupakan kasus yang langka. Persentase kasusnya hanya 0,07 persen pada kehamilan.

Ruptur uteri paling sering terjadi pada wanita yang pernah menjalani operasi sesar. Sobekan akan timbul di sepanjang bekas luka pascaoperasi sesar.

Baca Juga: Bisakah Anjing Tahu Anda Sedang Hamil?

Sedangkan dalam kasus Zhang, sobekan timbul pasca operasi penghilangan fibroid, sel tidak normal pada rahim, sebelum Zhang hamil.

Operasi itu menyisakan jaringan parut yang meningkatkan risiko ruptur uteri.

Direktur Obstetri Penyakit Jantung Ibu dalam Program Kehamilan di Pusat Layanan Kesehatan Wexner Universitas Negeri Ohio, Dr. Michael Cackovic, mengatakan, dalam kasus Zhang kemungkinan rahim pecah dengan sendirinya dan disusul kaki bayi di perut.

Bekas luka dari operasi sesar dan operasi pengangkatan fibroid membuat rahim melemah. Bagian penting di tubuh wanita itu akan semakin menipis saat rahim membesar ketika hamil. Dengan begitu, rahim akan pecah dengan sendirinya.

"Rahim sangat tipis, Anda bisa melihat bayi itu melewatinya," kata Cackovic seperti dikutip dari Live Science, Rabu (18/10/2017).

Meski demikian, Cackovic mengatakan masih ada kemungkinan kecil tendangan bayi membuat rahim sobek.

"Tentu mungkin tendangan itu bisa menjadi dorongan terakhir untuk melewati lapisan (rahim)" kata Cackovic.

Jika rahim pecah, calon ibu akan mengalami kegagalan organ dan janin akan mati lemas.

Dokter tak punya waktu lama untuk menyelamatkan ibu dan calon bayi. Waktu toleransinya hanya 10-40 menit agar bayi tak membahayakan janin.

Untungnya, dokter yang menangani Zhang bergerak cepat. Operasi yang ditempuh hanya memakan waktu kurang dari 10 menit. Dokter pun menemukan sobekan 2,8 inci (7 sentimeter) di rahim. Zhang dan bayinya berhasil diselamatkan.

Baca Juga: Inilah Alasan Sebenarnya Ibu Hamil Tidak Boleh Merokok

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorYunanto Wiji Utomo

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM