Apakah Ular Layak Dikonsumsi Manusia? Pakar Menjawab - Kompas.com

Apakah Ular Layak Dikonsumsi Manusia? Pakar Menjawab

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 05/10/2017, 16:05 WIB
ular piton sepanjang 7 meter yang ditangkap warga di Riau. Sutarja ular piton sepanjang 7 meter yang ditangkap warga di Riau.

JAKARTA, KOMPAS.com –- Bagi sebagian manusia Indonesia, tidak ada pantangan dalam memilih makanan. Dari menu yang lumrah seperti ayam dan sapi hingga hewan liar seperti ular, semua bisa disantap.

Jika tak percaya, berkunjunglah ke Pasar Beriman Tomohon, Sulawesi Utara, atau yang lebih dikenal dengan Pasar Ekstrem. Dari anjing, babi hutan, tikus, kelelawar, hingga ular piton besar, semuanya tersedia di pasar ini.

Untuk piton, belum lama ini warga Desa Belimbing Kecamatan Batang Gangsal, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau, menyantap bersama seekor piton besar yang panjangnya tujuh meter. Sebelumnya, reptil tersebut telah merobek tendon lengan kiri Robet Nababan pada Sabtu (30/9/2017) pukul 10.00 WIB.

(Baca juga: Warga Riau Masuk RS karena Piton 7 Meter, Ini Pelajaran Buat Kita)

Pakar toksikologi dan bisa ular DR. dr. Tri Maharani, M.Si SP.EM berkata bahwa daging, empedu, dan bisa ular terdiri atas protein sehingga tidak masalah bila dikonsumsi.

Namun, tidak benar bila daging ular memiliki berbagai khaziat ajaib selama ini dipercaya oleh masyarakat. "Di masyarakat, banyak yang percaya ular bisa mencegah penyakit jantung, kecing manis, dan penyakit kulit, serta meningkatkan vitalitas dan tinggi protein. (Itu) hoax," ujar Tri saat dihubungi Kompas.com, Rabu (4/10/2017).

Selain itu, ada kekhawatiran bila ular yang dimakan memiliki penyakit. "Apakah ular itu sakit apa tidak kan tidak bisa dideteksi,” kata Tri.

(Baca juga: Apa yang Harus Dilakukan jika Digigit Ular Tak Berbisa?)

Tri menjelaskan, bakteri maupun virus yang dikandung ular tidak bisa diketahui sehinga potensi terjadinya zoonosis atau infeksi penyakit hewan kepada manusia tetap ada.

Secara umum, diperkirakan ada 200 penyakit zoonosis yang mengancam masyarakat Indonesia, dan Tri menilai bahwa penelitian mengenai penyakit ular masih sedikit.

“Dokter hewan tahu kalau ular sakit. Tapi apa virus atau bakteri tersebut bisa menular pada manusia, belum ada penelitiannya. Bagaimanapun, (ular) itu bukan makanan umum. Kalau terjadi sesuatu, kita tidak pernah tahu itu bisa diobati dengan apa,” kata Tri.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorShierine Wangsa Wibawa

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM