8 Bulan Tinggal di "Mars", Para Astronot Akhirnya Pulang Kampung - Kompas.com

8 Bulan Tinggal di "Mars", Para Astronot Akhirnya Pulang Kampung

Kontributor Sains, Monika Novena
Kompas.com - 19/09/2017, 17:06 WIB
Setelah delapan bulan, kru Misi V akhirnya keluar dari habitat buatan yang menyerupai Mars.University of Hawaii via AP Setelah delapan bulan, kru Misi V akhirnya keluar dari habitat buatan yang menyerupai Mars.

KOMPAS.com -- Manusia memang belum benar-benar tinggal di Mars. Namun, sambil menunggu rencana itu terlaksana, segala persiapan perlu dilakukan dari sekarang, termasuk melakukan simulasi tinggal di Planet Mars.

Delapan bulan yang lalu, NASA memilih enam orang, dua perempuan dan empat pria, untuk melaksanakan sebuah misi.

Bernama misi V, misi ini mengharuskan kru untuk tinggal di sebuah lokasi dengan kondisi yang menyerupai planet Mars. Selain simulasi kehidupan di Mars, misi ini juga bertujuan untuk menyiapkan astronot yang akan pergi ke Mars, serta melihat efek psikologisnya.

(Baca juga: Lebih Sadis dari Perkiraan, Bisakah Mars Jadi Rumah Berikutnya?)

Tempat yang dipilih adalah Big, sebuah pulau terpencil di Hawaii. Para kru ditempatkan di sebuah fasilitas di Hawaii Space Exploration Analog and Simulation (HI-SEAS) University of Hawaii di gunung berapi Mauna Loa.

Untuk semakin menyerupai Mars, simulasi juga dilengkapi dengan penundaan komunikasi selama 20 menit dengan "dunia luar". Jangka waktu ini diperkirakan seperti waktu tunda komunikasi antara Mars dan Bumi.

Selain itu, kru juga tinggal dalam sebuah kubah seluas 111 meter persegi dan selalu menggunakan sensor yang akan membantu memonitor kesehatan mereka.

Pada hari Minggu (17/9/2017), para kru akhirnya menyelesaikan misinya. Mereka berhasil menyelesaikan misi dan memberikan kontribusi melalui kehidupan yang mereka jalani selama delapan bulan, termasuk memberikan pemahaman mengenai efek psikologis jangka panjang yang terjadi terhadap astronot.

(Baca juga: Kencing Astronot Bisa Jadi Kunci Manusia Menuju Mars)

Situs Phys.org pernah mengungkapkan bahwa hal pertama yang nantinya akan dilakukan oleh tim selepas delapan bulan memakan makanan beku adalah pesta makan buah-buahan dan sayuran.

Dengan pemikiran itu, NASA memiliki gambaran bahwa hal mendasar yang harus dipenuhi untuk menghindari efek buruk dari isolasi, serta menjaga ketegangan, cukup sederhana, yaitu makanan yang lebih baik.

Misi yang melelahkan ini sebenarnya merupakan salah satu persiapan yang dilakukan dalam perjalanan progresif ke Mars, sebuah pencapaian yang setidaknya paling cepat terjadi pada tahun 2030-an nanti.

Ekspedisi ke Mars diperkirakan akan memakan waktu minimal dua sampai tiga tahun. Dalam jangka waktu yang lama tersebut, kru akan berada di tempat yang terbatas sepanjang waktu, dengan komunikasi yang terbatas pula.

(Baca juga: NASA Akui Tidak Mampu Kirim Manusia ke Planet Mars)

Memahami bagaimana keadaan ekstrem seperti itu dapat memengaruhi mental seorang astronot bisa membantu badan antariksa memilih kru yang secara khusus dapat bertahan dan menjalankan misi.

Nantinya, astronot yang akan dikirim ke Mars akan melewati serangkaian seleksi. Mereka tidak hanya perlu berprestasi secara akademis, tetapi juga baik secara fisik dan mampu menyelesaikan berbagai permasalahan.

Lalu, mereka juga dituntut untuk memiliki mental yang kuat agar bisa berada dalam kondisi terisolasi dalam jangka waktu yang panjang dan berada di sebuah planet asing.

Jadi, penelitian serta simulasi ini merupakan hal penting dan mendasar untuk memastikan keselamatan dan kesehatan mental astronot di masa depan.

PenulisKontributor Sains, Monika Novena
EditorShierine Wangsa Wibawa
SumberFuturism

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM