Bingungkan Peneliti, Tanah Longsor di Desa Ini Mengalir bagai Lava - Kompas.com

Bingungkan Peneliti, Tanah Longsor di Desa Ini Mengalir bagai Lava

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 15/09/2017, 07:08 WIB
Tanah longsor yang mengalir seperti lava di desa Dimye.Handout/South China Morning Post Tanah longsor yang mengalir seperti lava di desa Dimye.

KOMPAS.com -- Sebuah video yang baru saja viral di media sosial China menampilkan adegan mengerikan ketika tanah longsor mengalir melalui desa Dimye di dataran Qinghai-Tibet, China pada tanggal 7 September 2017.

Tidak seperti tanah longsor pada umumnya yang berlangsung cepat, kumpulan lumpur dan rumput ini mengalir dengan lambat seperti lava menuju sungai dan menelan segala hal yang ada di jalannya, termasuk sebuah rumah dan mobil.

Dikutip oleh National Geographic 12 September 2017, peneliti tanah longsor Mika McKinnon yang telah melihat video tersebut mengatakan, ini adalah kekuatan yang lambat dan tidak bisa dihentikan, tetapi ia tidak akan langsung membunuh manusia.

(Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Antartika Hijau Lagi seperti Zaman Purba)

Semenjak disebarkan di media sosial internasional, tidak sedikit peneliti yang mencoba untuk menjelaskan fenomena ini.

Salah satu teori yang paling populer menyebutkan bahwa aliran tanah tersebut disebabkan oleh melelehnya permafrost (tanah beku) akibat perubahan iklim dan hujan yang berlebih.

Dilansir dari South China Morning Post 14 September 2017, para peneliti pemerintahan China menduga bahwa volume air hujan yang meresap hingga 2,5 meter di bawah permukaan tanah membuat permafrost meleleh.

Tanah longsor yang mengalir di desa Dimye.Handout/South China Morning Post Tanah longsor yang mengalir di desa Dimye.

Mereka juga berkata bahwa pengamatan menunjukkan permafrost di dataran Tibet meleleh lebih cepat seiring dengan meningkatnya temperatur global.

Permafrost memang memiliki peran penting di lingkungan dingin. Ia menjaga agar lapisan tanah di atasnya tetap diam di tempat dan berfungsi sebagai dasar untuk pohon dan tanaman bertumbuh. Ketika permafrost menjadi lebih hangat dan meleleh, maka lapisan tanah di atasnya pun menjadi tidak stabil.

Setelah permafrost meleleh, tanah yang ditinggalkan akan tampak berlubang-lubang dan disebut thermokarst. Sebagian besar thermokarst memang terjadi di daerah Arktik, tetapi karakteristik tanah ini sudah pernah ditemukan di dataran Qinhai-Tibet seperti yang dilaporkan dalam jurnal Scientific Reports.

(Baca juga: Es Arktik Mencair, Virus Raksasa Kuno Bisa Bangkit Kembali)

Sayangnya, ini baru sekadar teori. McKinnon berkata bahwa tanpa adanya bukti-bukti es yang jelas di dalam tanah longsor, sulit untuk menentukan bila fenomena ini disebabkan oleh melelehnya permafrost.

Di dalam video, lembah di daerah sekitar desa juga terlihat memiliki luka-luka akibat tanah longsor. Menurut McKinnon, hal ini menunjukkan bahwa pergerakan tanah di area tersebut bukan yang pertama kalinya. Namun, penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui asal dari tanah longsor misterius ini.

Oleh karena itu, McKinnon dan seorang koleganya di Tibet berencana untuk mempelajari gambar-gambar satelit dan menyelidiki fenomena ini. Sayangnya, penyelidikan ini masih terkendala oleh situasi geopolitik di daerah tersebut.

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM