Di Hari Begini, Haruskah Bayi yang Baru Lahir Dibedung? - Kompas.com

Di Hari Begini, Haruskah Bayi yang Baru Lahir Dibedung?

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 26/08/2017, 19:04 WIB
Koleksi foto bayi tertidur nan lucu karya Sandi FordDAILY MAIL Koleksi foto bayi tertidur nan lucu karya Sandi Ford

KOMPAS.com – Pertanyaan untuk membedung atau tidak membedung bayi yang baru lahir pasti pernah dialami oleh setiap orangtua modern. Walaupun sejarah menunjukkan bahwa bayi telah dibedung setidaknya sejak tahun 1700-an, penelitian modern menunjukkan bahwa kain bedung dapat membahayakan bayi.

Pada tahun lalu, dokter anak di Boston Children’s Hospital dan Asisten profesor untuk Kesehatan Anak di Harvard Medical School, dr Claire McCarthy, pernah mengulas mengenai penggunaan kain bedung pada bayi di laman blog kesehatan Harvard University.

Dia berkata bahwa pembedungan membantu bayi untuk tidur lebih nyenyak. Pasalnya, kain yang erat di sekitar tubuh membuat bayi merasa lebih aman dan seakan kembali ke dalam kandungan atau dipeluk.

(Baca juga: "Ngeloni" Bayi Jadi Kontroversi di AS, Orangtua Indonesia Harus Tahu)

Hal ini pun membuat banyak orangtua lebih suka membedung bayinya, terutama orangtua dari bayi yang terlahir dengan masalah neurologis atau kolik yang membuatnya menangis terus-terusan.

Selain itu, pembedungan juga membantu orangtua untuk menjaga bayi tetap tertidur pada punggung dan mencegah terjadinya sindrom kematian bayi mendadak (SIDS). “Beberapa bayi kesulitan tidur pada punggung karena mereka mengagetkan dirinya sendiri hingga terbangun. Ketika dibedung, hal ini lebih jarang terjadi,” tulis dr McCarthy.

Akan tetapi, pembedungan juga memiliki risiko. Jika terlalu erat, risiko gangguan pada panggul bayi bisa meningkat. Namun, kain bedung yang terlalu longgar juga dapat mencekik bayi dalam tidurnya dan menyebabkan SIDS.

Diuraikan dalam studi yang dipublikasikan melalui jurnal Pediatrics pada tahun 2016, para peneliti menemukan bahwa risiko SIDS pada bayi yang dibedung dan tidur tengkurap sangatlah tinggi. Terutama bagi bayi yang berusia di atas enam bulan, risiko ini meningkat hingga dua kali lipat dari rata-rata.

(Baca juga: Alasan Orangtua Harus Khawatir jika Bayi Berkepala Datar)

Oleh karena itu, para dokter anak seperti dr McCarthy dan dr Rachel Moon, anggota dari American Academy of Pediatrics (AAP) menganjurkan kepada para orangtua yang ingin membedung bayinya untuk mengikuti rekomendasi AAP:

1. Letakkan bayi pada punggungnya ketika tidur dan monitor agar dia tidak berbalik.

2. Jangan letakkan selimut longgar, termasuk kain bedung yang longgar, di dalam tempat tidur bayi agar tidak menutupi wajah si kecil dan meningkatkan risiko kekurangan nafas.

3. Kain bedung dapat membuat bayi kepanasan. Gejala-gejala kepanasan yang wajib diperhatikan adalah keringat, rambut yang basah, pipi yang memerah, ruam panas, dan pernafasan yang terlalu cepat.

4. Bila Anda akan membedung bayi untuk waktu yang lama, pertimbangkan penggunaan karung bedung yang memperbolehkan kaki bayi untuk bergerak demi kesehatan panggulnya.

Namun, dr McCarthy menegaskan bahwa bayi sebetulnya tidak harus dibedung. “Jika bayi baik-baik saja tanpa dibedung, Anda tidak perlu melakukannya,” katanya.

Dokter Moon yang menggodok rekomendasi AAP juga menambahkan, saya menyarankan berhenti membedung ketika bayi berusia dua bulan, tepat sebelum bayi mulai bergulung-gulung dan berbalik badan.

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM