Pakai "Bioslurry", Panen Cabai Petani Ini Melimpah - Kompas.com

Pakai "Bioslurry", Panen Cabai Petani Ini Melimpah

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 08/08/2017, 16:03 WIB
Sukijo (46) petani asal Dusun Banaran, Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menunjukkan hasil pertaniannya kepada Direktur Lingkungan Hidup Bappenas, MedrilzamLutfy Mairizal Putra Sukijo (46) petani asal Dusun Banaran, Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, menunjukkan hasil pertaniannya kepada Direktur Lingkungan Hidup Bappenas, Medrilzam

MAGELANG, KOMPAS.com -– Sukijo (46), petani di Dusun Banaran, Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, boleh bersenang diri. Tiga hari ke depan, dia akan kembali memanen cabai yang ditanamnya di lahan seluas 1.200 meter. Saat panen, dia bisa mendapatkan 35-40 kilogram cabai setiap tiga hari sekali dari 2.000 pohon.

Siklus tanaman cabai mengalami perubahan setelah Sukijo tak lagi menggunakan pupuk kimia. Tanaman ini mampu bertahan hidup selama satu tahun dengan pupuk organik, sedangkan dengan pupuk kimia hanya mampu hidup selama lima bulan.

“Pertumbuhannya lebih bagus, masa panen panjang. Apalagi kalau tanam cesim dan kembang kol, lebih gampang tumbuhnya,” kata Sukijo kepada Kompas.com, Senin (7/8/2017).

(Baca juga: Baru 25 Persen Perajin Tahu Olah Biogas)

Pupuk organik tersebut merupakan hasil akhir dari pengolahan kotoran sapi dalam pembuatan biogas yang disebut bioslurry. Untuk membuatnya, para petani dibantu oleh Perkumpulan Sesami yang mendapat pendanaan dari Indonesia Climate Change Trust Fund (ICCTF) sejak 2016.

Setelah biogas dipisahkan, kotoron sapi cair difermentasi dengan campuran EM4 dan tetes tebu selama satu pekan untuk menghasilkan bioslurry. Takarannya, lima tutup botol EM4 ditambah dengan sepuluh tutup botol tetes tebu, lalu dicampur dengan 160 liter kotoran sapi cair.

Dalam penggunannya sebagai pupuk organik, satu liter bioslurry dicampur dengan lima liter air. Setiap tiga hari sekali, para petani memberikan bioslurry saat masa pertumbuhan tanaman.

Berkat kemampuannya terhadap kesuburan tanah, bioslurry menarik perhatian sejumlah petani dari Boyolali, Bondowoso, dan Wonosari. Sayangnya, permintaan tersebut belum dapat dipenuhi karena belum terbentuknya manajemen penjualan.

(Baca juga: Reaktor Biogas Limbah Sawit)

“Sementara ini dipakai sendiri dulu. Rencananya ke depan bisa dijual ke daerah lain,” kata Ketua Kelompok Tani Keningan Hijau itu.

Sukijo mensyukuri keputusannya untuk menjadi petani. Selain mendapatkan peningkatan kesejahteraan, pertaniannya, bersama kelompok tani Keningan Hijau, berupaya merestorasi area bekas tambang pasir di lereng gunung Merapi.

Sebelumnya, Sukijo berprofesi sebagai karyawan pada sebuah perusahan LCD telepon genggam di Serang, Jawa Tengah. Penghasilannya hanya mampu untuk menunjang hidup. Gali lubang, tutup lubang terkadang dilakukannya untuk menutupi kebutuhannya.

Bersama istrinya, Asih Lestasri (47), Sukijo memutuskan pulang kampung pada tahun 2008. Namun, dia tak langsung menjadi petani. Sukijo bahkan tak mengerti pertanian sama sekali.

Sembari menjadi mandor di tambang pasir, dia belajar bertani dengan temannya yang menjadi supir truk pasir. “'Kamu jangan selamanya di tambang (pasir), tidak menjanjikan selamanya.' Begitu kata mereka. Akhinya saya belajar benar-benar,” ucap Sukijo.  

Sukijo lantas bertani di atas lahan bekas tambang pasir. Ia mendatangkan empat truk tanah untuk membuat sekitar 30 bedeng.

Agar bisa ditanam, bedeng ditaburi 300 jeriken kotoran sapi sebagai pupuk dasar. Kemudian, bioslurry ditaburkan untuk meningkatakan kesehatan tanah. Setelah itu, tanah ditutup dengan plastik musla untuk mencegah pertumbuhan rumput.

“Dicoba pakai bioslurry hasilnya boleh juga. Cabainya banyak. Ini sudah panen yang ke-14 kali. Bisa sampai 25-30 kali panen setiap tiga hari,” kata Sukijo.

Selain digunakan untuk lahan pertanian, bioslurry juga dipakai sebagai pupuk organik untuk menanam sengon sebagai bentuk restorasi lahan di lereng bekas tambang pasir. Dalam 5-6 tahun ke depan, masyarakat juga bisa mendapatkan nilai ekonomis dari kayu sengon.

“Kalau tidak direstorasi, tidak ada tempat penyimpanan air. Longsor jadi mudah terjadi,” kata Program Officer Divisi Konservasi Sesami Ines Septi Arsiningtyas.

Sementara itu, DIrektur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Medrilzam mengatakan, konservasi lingkungan hidup tidak hanya untuk memperbaiki tempat tinggal manusia, tetapi juga harus disertai dengan kesejahteranaan masyarakat.

“Harapannya, isu lingkungan hidup sampai ke pembangunan dengan menambahkan pendapatan masyarakat,” kata Medrilzam.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar