Baru 25 Persen Perajin Tahu Olah Biogas

Kompas.com - 20/10/2009, 19:57 WIB

BANTUL, KOMPAS.com- Dari sekitar 80 perajin tahu yang eksis di Kecamatan Srandakan di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, baru 25 persen yang sudah mengolah limbahnya menjadi biogas. Sebagian besar belum paham proses pembuatannya, sehingga cenderung tidak tertarik untuk memulainya.

Hal itu diungkapkan Kepala Bagian Ekonomi dan Pembangunan Kecamatan Srandakan, Sarwanta, saat mengujungi sentra perajin tahu di Dusun Gunungsaren Lor, Desa Trimurti, Kecamatan Srandakan, Selasa (20/10). "Jika diberi pengertian saya yakin para perajin bisa mengolah limbah menjadi biogas," katanya.

Menurut dia, pengolahan limbah tahu menjadi biogas baru dikenal perajin selama dua tahun terakhir. Sebelumnya, limbah hanya diolah lalu dibuang ke Sungai Progo. Setelah dikenalkan oleh LSM tentang cara mengolah limbah menjadi biogas, beberapa perajin pun tertarik untuk mencobanya.

Walyadi, salah seorang perajin di Dusun Gunungsaren Lor mengaku belum tahu cara pembuatan biogas. Ia masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Ia berharap bisa mendapatkan pelatihan cara pembuatan biogas. Bila menggunakan biogas ia yakin biaya produksi bisa ditekan karena tidak perlu mengeluarkan biaya kayu bakar.

Dalam sehari Walyadi mampu mengolah tiga kuintal kedelai menjadi tahu. Ia menjualnya kepada sejumlah pedagang di Pasar Beringharjo dan Pasar Demangan di Kota Yogya. Harganya bervariasi sekitar Rp 200-Rp 400 per biji tergantung pada ukurannya.

Bahan baku kedelai diperoleh dari petani sekitar Bantul dengan harga Rp 5.600/kg. Bila suplai di Bantul tidak cukup biasanya ia mengambil kedelai dari daerah lain seperti Klaten dan Temanggung.



Editormsh

Close Ads X