Inilah Mengapa Virus Zika Gagal Merebak di Indonesia - Kompas.com

Inilah Mengapa Virus Zika Gagal Merebak di Indonesia

Lutfy Mairizal Putra
Kompas.com - 03/08/2017, 09:02 WIB
Prof dr Amin Soebandrio, PhD, SpMK (dua dari kanan) di The 6th International Eijkman Conference – 25th Year Celebration of Eijkman Institute: Genetics, Diseases and Environment yang diadakan di Jakarta, Rabu (1/8/2017).Shierine Wibawa Prof dr Amin Soebandrio, PhD, SpMK (dua dari kanan) di The 6th International Eijkman Conference – 25th Year Celebration of Eijkman Institute: Genetics, Diseases and Environment yang diadakan di Jakarta, Rabu (1/8/2017).

JAKARTA, KOMPAS.com –- Anda tentunya sudah pernah mendengar mengenai virus zika. Virus yang disebarkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti ini telah menjangkiti berbagai negara di dunia, termasuk Brazil, Amerika Utara, Amerika Selatan, Karibia, Afrika, dan Samoa. Gejalanya berupa demam, nyeri sendi, mata merah, ruam, hingga mikrosefali pada bayi.

Di Indonesia sendiri, virus zika ditemukan kali pertama di Jambi pada medio Desember 2014 hingga April 2015 lalu oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME). Dari 103 sampel darah, ada satu yang terjangkit virus zika. Padahal, orang tersebut berasal dari Jambi dan tidak punya riwayat bepergian ke luar negeri.

LBME lantas meneliti lebih jauh untuk mengetahui potensi terjangkitnya virus zika pada orang lain.

(Baca juga: Perangi Zika, Perusahaan Saudara Google Ini Lepaskan 20 Juta Nyamuk)

“Kami ingin tahu, kok cuma satu, apakah yang lainnya tidak pernah kontak dengan virus zika. Sebab, orang yang kena di Jambi itu kan tidak pergi ke luar negeri,” kata Direktur LBME Amin Soebandrio di sela acara Konferensi Internasional Eijkman ke-6 di Jakarta, Rabu (2/8/2017).

Amin mengatakan, sejumlah orang terdeteksi pernah berkontak dengan virus zika melalui gigitan nyamuk. Namun, orang-orang tersebut tidak sampai terjangkit zika dan hanya satu orang yang dipastikan terjangkit Zika. Dengan demikian, Indonesia tidak dapat dikatakan sebagai tempat merebaknya Zika.

Menurut Amin, tidak semua orang yang kedapatan berkontak dengan virus zika terjangkit Zika. Antibodi manusia menjadi penangkal agar virus tersebut tidak berkembang.

Melalui diagnosis, para peneliti menemukan bahwa antibodi terbangun karena adanya proteksi silang dengan virus dengue yang menyebabkan demam berdarah. Orang yang telah kebal terhadap virus dengue, juga kebal terhadap virus zika. Begitu juga sebaliknya.

Hal itu terjadi karena adanya kesamaan famili virus zika dan dengue. Keduanya sama-sama berasal dari keluarga Flaviviridae.

“Itu salah satu hipotesis kenapa kasus zika hanya sedikit di Indonesia. Kekebalan terhadap virus zika beraksi silang terhadap kekebalan virus dengue. Walaupun kami belum pernah membuktikan secara eksperimental, sudah ada penelitian kekebalan silang itu di luar negeri,” kata Amin.

Dia mengatakan, ke depan, masih terdapat potensi merebaknya virus baru di Indonesia. Namun, belum ada kepastian virus yang akan merebak. Virus lama dapat bermutasi dan virus baru bisa timbul. Beberapa di antaranya yang perlu mendapat perhatian adalah ebola, mers, dan zika.

“Seperti zika, kan selama ini tidak diperhatikan, tiba-tiba muncul,” kata Amin.

Ke depannya, Amin berharap dapat melakukan eksperimen untuk membuktikan perlindungan silang antibodi virus dengue dengan virus zika dalam konteks indonesia.

PenulisLutfy Mairizal Putra
EditorShierine Wangsa Wibawa

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM