Pertama Kali, Nelayan Temukan Porpoise Berkepala Dua - Kompas.com

Pertama Kali, Nelayan Temukan Porpoise Berkepala Dua

Shierine Wangsa Wibawa
Kompas.com - 16/06/2017, 12:31 WIB
Porpoise berkepala duaErwin Kompanje Porpoise berkepala dua

KOMPAS.com -- Seekor porpoise berkepala dua baru saja terjaring oleh kapal nelayan di Laut Utara, Belanda. Ketika terangkat, porpoise tersebut sudah mati dan para nelayan yang ketakutan karena telah menjaring hewan tersebut melemparkannya kembali ke air.

Erwin Kompanje, seorang peneliti di Natural History Museum dan Erasmus MC University Medical Center di Rotterdam, Belanda, menulis mengenai penemuan hewan tersebut dalam jurnal Deinsea.

Dia menulis bahwa porpoise yang terjaring baru lahir, terlihat dari sirip punggung yang masih lembek, pusar yang terbuka, rambut di area hidung, dan bentuk mulut yang seperti  paruh. Dengan panjang 70 sentimeter, Kompanje memperkirakan bahwa hewan tersebut memiliki berat enam kilogram.

Lalu, porpoise tersebut juga memiliki dua kepala yang sempurna dan satu tubuh yang sempurna dengan dua sirip dada. Penggabungan mulai terjadi pada bagian perut dan pinggang sehingga hewan tersebut hanya memiliki satu kelamin jantan saja. Kompanje menulis bahwa karakteristik ini menunjukkan hewan tersebut merupakan kembar siam dan penggabungan terjadi di antara dua embrio yang berkembang dengan baik.

Kompanje juga menulis bahwa kasus ini sebenarnya baru pertama kali dalam dunia penelitian porpoise dan lumba-lumba. Catatan ilmiah bahkan memperkirakan kemungkinan terjadinya cetacea kembar normal kurang dari satu dalam 200 karena tubuh ibu yang tidak memiliki cukup ruang untuk dua janin.

Sayangnya, hewan tersebut langsung dibuang ke air oleh para nelayan sehingga menutup kemungkinan untuk diteliti lebih lanjut.

Peneliti ini berkata bahwa walaupun penyebab kematian porpoise berkepala dua tersebut tidak diketahui dengan pasti, tetapi dengan kondisinya, kemungkinan besar hewan tersebut tidak bisa berenang. Selain itu, ada dugaan bahwa jantung hewan tersebut juga menyatu sehingga tidak dapat berfungsi dengan sempurna.

Ditambah dengan tuntutan untuk harus langsung bisa berenang sendiri setelah dilahirkan, kemungkinan bayi porpoise atau lumba-lumba yang kembar siam untuk bertahan hidup sangatlah rendah.

(Baca juga: Ini Sebabnya Kelahiran Kembar Siam Terjadi)

PenulisShierine Wangsa Wibawa
EditorShierine Wangsa Wibawa
Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM